Tidak Sekadar Human Error
KESALAHAN manusia alias human error sering disebut-sebut sebagai penyebab suatu kecelakaan lalu lintas terjadi. Memang kecelakaan tidak selalu akibat human error, bisa akibat banyak hal seperti cuaca, mesin rusak, atau sabotase.
KESALAHAN manusia alias human error sering disebut-sebut sebagai penyebab suatu kecelakaan lalu lintas terjadi. Memang kecelakaan tidak selalu akibat human error, bisa akibat banyak hal seperti cuaca, mesin rusak, atau sabotase. Namun untuk mencari penyebab termudah biasanya sering menuduh kepada operator kendaraan yang menyebabkan kecelakaan itu.
Memang berdasarkan data Ditlantas Polri tahun 2009, penyebab kecelakaan lalu-lintas yang dominan adalah kesalahan manusia/pengemudi yang presentasenya mencapai 85 persen. Penyebab berikutnya adalah faktor kendaraan 4 persen, jalan dan prasarana 3 persen, pemakai jalan lainnya 3 persen, faktor lingkungan dan sebagainya 5 persen.
Dari 85 persen tersebut, modus kesalahan yang dilakukan pengemudi, penyebab terbesar terjadinya tabrakan adalah pengemudi tidak sabar dan tidak mau mengalah (26 persen), menyalip atau mendahului (17 persen), berkecepatan tinggi (11 persen). Sedangkan penyebab lainnya seperti perlanggaran rambu, kondisi pengemudi dan lain-lain berkisar antara 0,5 sampai 8 persen.
Dalam High School Dictionary karangan Thorndike Barnharda, salah satu definisi sederhana dari human error adalah kesalahan manusia yang tidak bisa dihindarkan oleh batas kemampuan standar. Persoalannya kemudian, apa penyebab kesalahan manusia itu?
Di koran ini dalam sepekan terakhir diberitakan tentang kecelakaan maut di Sumedang dan Indramayu. Di Sumedang bus, Maju Jaya masuk jurang yang menewaskan 12 penumpang. Sementara di Indramayu bus Luragung menabrak truk trailer yang menewaskan 3 orang.
Apakah itu semua semata kesalahan manusia? Dalam kasus Bus Maju Jaya yang masuk jurang misalnya, belakangan diketahui mesin bus yang seharusnya merek Hino diganti dengan mesin truk Fuso enam silinder. Onderdil Maju Jaya juga banyak yang bukan asli, termasuk gardan. Bahkan oli seal rem juga jebol yang menyebabkan rem tidak berfungsi. Sementara kecelakaan Bus Luragung di Indramayu diduga akibat bus dikemudikan lebih dari 100 Km per jam.
Pertanyaanya kenapa bus begitu mudah berjalan dengan tidak memenuhi kriteria standar dan pengemudinya ugala-ugalan. Tentu saja banyak faktor, seperti kejar setoran akibat makin susahnya perekonomian, penghematan biaya perusahaan dengan memakai onderdil kelas dua, hingga buruknya mental sopir dan minimnya pengetahuan tentang keselamatan lalu lintas.
Human error hanya dapat diminimalisir dengan penegakan hukum secara ketat dalam pembuatan SIM B2 umum dan pihak Dinas Perhubungan jangan mudah mengeluarkan KIR. Artinya kendaraan yang menggunakan onderdil atau perlengkapan di luar standar keselamatan jangan diberi KIR, sedangkan sopir yang akan mengambil SIM B2 harus benar-benar lulus ujian lalu lintas. Bukan itu saja infrastruktur jalan yang bagus plus rambu-rambu lalu lintas yang jelas, serta polisi dan petugas Dishub yang antipungli harus ada setiap saat. Jika itu semua terpenuhi, Insya Allah human error di negeri ini dapat diminimalisir. (*)