LIPI Cari Solusi Pengolahan Limbah Tahu
Pusat Penelitian Fisika LIPI mencoba memberikan alternatif solusi bagi persoalan limbah tersebut. Apalagi proses produksi tahu membutuhkan air bersih dan bahan bakar yang banyak.
Penulis: Agung Yulianto Wibowo | Editor: Deni Denaswara
BANDUNG, TRIBUN - Peneliti utama Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Neni Sintawardani mengatakan, kasus Cibuntu hanya sepenggal potret saja. Sebab di Bandung, ada sekitar 509 perajin tahu dengan skala produksi yang bervariasi. Dari skala 15 kilogram biji kedelai per hari sampai dengan skala 7,5 ton biji kedelai per hari.
“Dengan perhitungan kasar saja, Bandung diperkirakan dibanjiri 16,8 juta meter kubik limbah cair yang asam dan pekat per tahun. Limbah tersebut tentu saja menghadirkan masalah, tetapi sekaligus membawa potensi pemanfaatannya melalui teknologi yang tepat,” katanya.
Pusat Penelitian Fisika LIPI mencoba memberikan alternatif solusi bagi persoalan limbah tersebut. Apalagi proses produksi tahu membutuhkan air bersih dan bahan bakar yang banyak.
“Solusi alternatif untuk pengolahan limbah yang diberikan adalah pengolahan secara anaerobic bagi masalah polusi dan sanitasi,” katanya. (guy)