Catatan Kecil Dunia Pendidikan Kita

DUNIA pendidikan kita kembali menunjukkan wajah buruknya. Apa boleh buat. Dua ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Citeras, Kampung Cibuah, Desa Citeras, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, ambruk pada Minggu (5/1). Akibatnya puluhan murid di sekol

Editor: Deni Denaswara

DUNIA pendidikan kita kembali menunjukkan wajah buruknya. Apa boleh buat. Dua ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Citeras, Kampung Cibuah, Desa Citeras, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, ambruk pada Minggu (5/1). Akibatnya puluhan murid di sekolah dasar pelat merah itu harus belajar di bawah naungan tenda.

Dua ruang kelas itu ambruk setelah hampir seharian diguyur hujan dan diempas anging kencang. Selain karena faktor alam, faktor usia juga berperan besar pada kasus ambruknya dua ruang kelas SDN 1 Citeras itu. Bisa dipastikan dua ruang kelas yang ambruk itu usianya uzur.

Soal sekolah yang berusia uzur dan luput dari perhatian Dinas Pendidikan, tersebar di banyak tempat. Tidak perlu melepas pandang jauh ke daerah pasisian (daerah terpencil), di kota pun banyak sekolah yang kondisi bangunannya memprihatikan. Sekolah seperti ini, biasanya mendapat perhatian khusus bila satu-dua ruang kelasnya ambruk dan disorot banyak media. Bila tidak, maksudnya bila tidak ambruk dan tidak di-blow up media, biasanya upaya renovasi dan menciptakan tempat belajar yang aman dan nyaman hanya ada di ruang-ruang seminar dan rapat anggaran.

Apa boleh buat. Dunia pendidikan kita sering menunjukkan wajah buruknya. Dua ruang kelas SDN 1 Citeras, hanya satu contoh kasus. Seperti kita tahu, banyak saudara kita di daerah terpencil harus menyabung nyawa melawan arus sungai untuk tiba di sekolah mereka. Atau adik-adik kita, di Kampung Sang Hiang, Lebak, Banten, yang harus meniti jembatan rusak untuk mencapai sekolah mereka.

Apa yang dialami anak sekolah di Kampung Sang Hiang, Lebak, membuat dunia 'menangis'. Asal tahu saja, kapten Manchester City Vincent Kompany, mengaku prihatin dan menyampaikan simpatinya kepada anak-anak sekolah kita yang harus menjalani masa sulit dalam upaya mendapatkan pendidikan.

Kompany memang tidak mendonasikan sebagian hartanya untuk membantu adik-adik kita di Kampung Sang Hiang, Lebak, Banten. Dan kita tidak pantas untuk berharap kepada Kompany. Harapan kita untuk melihat sarana pendidikan dan mutu pendidikan di tanah air lebih baik, tentu harus dialamatkan kepada mereka yang sekarang sedang diberi tanggung jawab memimpin dan mengelola negeri ini.

Dalam kondisi memprihatinkan seperti ini, sangat tidak masuk akal ketika tersiar berita dari Senayan sana, para wakil rakyat yang ingin merenovasi toilet dan tempat duduk mereka dengan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Bila keinginan merenovasi toilet dan ruang rapat itu benar-benar diwujudkan, kita hanya bisa mengurut dada sambil bertanya ditaruh dimana hati nurani mereka.

Apa yang terjadi di SDN 1 Citeras Garut dan di Kampung Sang Hiang, Lebak, Banten, mungkin bisa menjadi catatan bagi kita semua. Apa yang terjadi di SDN 1 Citeras dan di Kampung Sang Hiang, semoga membuat malu kita semua yang berjaya ketika banyak saudara kita hidup menderita. (*)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved