Ketika Pilot Suka Fly

PADA Oktober 1996, Mohammad Said Badeges, pilot Garuda ditangkap di Bandara Schiphol, Amsterdam Belanda. Ia langsung diborgol di depan awak Garuda lainnya. Said tak berkutik ketika di tubuhnya ditemukan 8.000 ekstasi yang dililitkan di pinggangnya.

Editor: Deni Denaswara

PADA Oktober 1996, Mohammad Said Badeges, pilot Garuda ditangkap di Bandara Schiphol, Amsterdam Belanda. Ia langsung diborgol di depan awak Garuda lainnya. Said tak berkutik ketika di tubuhnya ditemukan 8.000 ekstasi yang dililitkan di pinggangnya. Yang mengejutkan, pilot ini bukan pilot kemarin sore. Said mengantongi 20.000 jam terbang dan telah 25 tahun bekerja untuk Garuda. Artinya, ia kemungkinan suka memakai ekstasi selama menerbangkan pesawat.

Setelah ia mendekam di sel, masyarakat berharap pemerintah dan maskapai bisa memperketat penerimaan pilot. Juga ketika pilot sudah direkrut, diharapkan bisa terus diperiksa kondisi kesehatannya. Tentunya ini merupakan harapan yang realistis, mengingat pekerjaan pilot butuh konsentrasi tinggi dan juga tanggung jawab terhadap puluhan hingga ratusan jiwa penumpang.

Kendati begitu, peristiwa seperti itu ternyata tak berhenti sampai disitu. Lima belas tahun kemudian, muncul lagi pilot yang suka menelan pil gedek. Pada September 2011, pilot Maskapai Lion Air, Moh Nasri,  pemakai narkoba jenis sabu dan pil ekstasi diadili di Pengadilan Negeri Tangerang, Selasa (27/9/2011). Terdakwa ditangkap ketika pesta sabu-sabu bersama rekannya, Imron dan Husni Thamrin co pilot, di sebuah apartemen di Kota Tangerang.

Pada 10 Januari 2012, Han, pilot Lion Air juga ditangkap di Makassar ketika pesta sabu-sabu bersama temannya. Ironisnya, Han mengaku sebelum memakai sabu-sabu ia pun mengonsumsi ekstasi dalam waktu yang cukup lama.

Kejadian pilot yang suka "fly" makin banyak terkuak. Sabtu (4/2/2012) dini hari, SS, pilot Lion Air juga ditangkap Badan Narkotika Nasional ketika pesta sabu-sabu di sebuah hotel di Surabaya. Bahkan pilot ini dijadwalkan menerbangkan pesawat dari Bandara Juanda ke Makassar esok paginya. Entah apa yang terjadi jika SS lolos dan menerbangkan pesawat.

Kenyataan ini merupakan gambaran bahwa narkoba tak pernah surut. Pemasoknya terus berkeliaran dan masuk ke semua lapisan masyarakat. Masih adanya pilot yang memakai narkoba tentunya membuat kita miris. Hal ini juga membuat kita bertanya-tanya, jangan-jangan beberapa kali terjadi kecelakaan pesawat lantaran pilotnya memang tengah "fly".

Jangan karena pergaulan, pilot-pilot ini memakai narkoba. Jangan juga lantaran dalih agar lebih kuat dan tahan melek dalam membawa pesawat. Apalagi jika alasannya karena frustasi gaji pilot lokal lebih kecil dari pilot asing, tentu tak dapat diterima begitu saja. Pasalnya, pekerjaan pilot menyangkut keselamatan orang lain, jadi tak boleh main-main.

Kondisi ini tentu harus menjadi warning yang keras. Pemerintah harus menindak tegas maskapai yang pilotnya suka "fly" dan maskapai harus langsung memberhentikan sang pilot. Peringatan keras ini penting, pasalnya pilot bertanggung jawab terhadap keselamatan jiwa ratusan penumpang.

Pemeriksaan kesehatan pilot dan karyawan lainnya juga harus diintensifkan. Ini juga penting untuk memantau kondisi kesehatan secara keseluruhan agar perusahaan juga sehat dan masyarakat bisa menggunakan jasa dengan aman dan tanpa rasa was-was. (*)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved