Al Masry wa Al Ahly wa Angie
SEDIKITNYA 74 orang tewas dalam kerusuhan seusai pertandingan sepak bola antara klub Al Masry dan Al Ahly. Ribuan pendukung tuan rumah klub Al Masry mengejar-ngejar dan mengeroyok suporter Al Ahly. Padahal Al Masry adalah klub yang memenangi laga di liga
SEDIKITNYA 74 orang tewas dalam kerusuhan seusai pertandingan sepak bola antara klub Al Masry dan Al Ahly. Ribuan pendukung tuan rumah klub Al Masry mengejar-ngejar dan mengeroyok suporter Al Ahly. Padahal Al Masry adalah klub yang memenangi laga di liga Mesir itu. Entah bagaimana ceritanya, ribuan orang terjebak di lorong pintu keluar, karena ternyata pintu itu dikunci. Ratusan orang terinjak-injak, lainnya jadi korban pemukulan, penganiayaan, dan pengeroyokan oleh suporter Al Masry.
Korban pun berjatuhan. Mereka rata-rata mengalami luka di bagian kepala, karena pukulan, terjatuh, ataupun terkena lemparan batu besar. Tak sedikit yang patah tulang dan cedera lainnya. Bahkan ada suporter yang tewas di depan ruang ganti pemain.
Dan berdukalah jagat sepak bola dengan rusuh terbaru ini. Di tengah penyelenggaraan Piala Afrika 2012, Mesir membuat noda hitam sejarah sepak bola Afrika. Tragedi Heysel yang menewaskan puluhan penonton saat pertandingan Juventus melawan Liverpool rupanya tak pernah membuat jera.
Yang membuat heran, aparat keamanan Mesir seolah membiarkan kerusuhan ini terjadi. Jumlah aparat keamanan memang tidak sebanding dengan jumlah penonton. Namun aparat yang ada di lapangan tak bertindak apapun untuk mencegah terjadinya kerusuhan itu. Bahkan yang mengunci pintu keluar stadion pun adalah pihak keamanan.
"Rusuh" dalam konteks yang berbeda juga sejatinya terjadi di ranah politik tanah air. Belum selesai gonjang-ganjing isu pergantian posisi Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, yang paling gres, kader Demokrat, Angelina Sondakh atau Angie, ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka baru kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011. KPK pun mengajukan permohonan cegah tangkal (cekal) Angie kepada Dirjen Imigrasi agar Angie tidak bisa bepergian ke luar negeri selama satu tahun.
Rusuh yang mulanya ditebar mantan bendahara umum Demokrat, M Nazaruddin itu, kian mengguncang tubuh partai berwarna biru berlambang bintung itu. Yang pasti, telinga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah panas tak tertahankan. Tangannya pun pasti gatal tak ketulungan. Sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, ia punya kekuasaan untuk mengamputasi Anas. Tapi tentu SBY akan tetap menjaga wibawa dengan selalu membawa persoalan itu ke internal dan menyelesaikannya di dalam.
Badai yang terus menerus menerpa Anas itu rupanya membuat Ruhut Sitompul frustrasi. Anggota DPR RI asal Demokrat itu nekat meminta Anas mundur sementara dari posisinya di DPP Partai Demokrat. Bagi Ruhut, Anas sudah seperti duri yang senantiasa menyayat daging setiap berembus isu apapun. Sehingga kalau tidak dinonaktifkan, akan membuat Demokrat terjerumus ke dalam jurang keterpurukan.
Bagi Partai Demokrat, "rusuh" yang satu ini memang yang paling bandel dan sulit dihindari. Mungkin lebih mudah mengusir isu calon presiden ketimbang isu kasus suap yang sudah melebar ke mana-mana. Namun yang pasti, rusuh Al Masry dan Al Ahly ini bukanlah inspirasi rusuh laga Persiwa melawan Persija. Rusuh di negeri ini memang sudah menjadi hobi dan kebiasaan. Apapun selalu dibuat rusuh. (*)