Inggis Batan Maut Hinis
JALAN raya sekarang ini sangat menakutkan. Dalam seminggu ini sedikitnya yang terpantau dan sulit hilang dari ingatan adalah peristiwa Xenia maut di Jakarta yang menewaskan sembilan pejalan kaki, dan di Bandung dua hari lalu seorang gadis tergilas
JALAN raya sekarang ini sangat menakutkan. Dalam seminggu ini sedikitnya yang terpantau dan sulit hilang dari ingatan adalah peristiwa Xenia maut di Jakarta yang menewaskan sembilan pejalan kaki, dan di Bandung dua hari lalu seorang gadis tergilas bus Damri.
Memang maut itu absolut milih Tuhan, manusia tak ada yang bisa mengetahui. Namun dengan adanya peristiwa kecelakaan di jalan raya yang banyak merenggut korban, jalan raya menjadi menakutkan. Hal ini, pertama karena banyaknya kendaraan bermotor, baik roda empat maupun terutama roda dua (sepeda motor). Kedua, karena sikap dan perilaku pengendaranya juga yang sering kali, baik karena tidak disiplin maupun karena perilaku menyimpang seperti berkendara sambil mengonsumsi obat terlarang. Korbannya jelas bisa menimpa siapa saja, termasuk pejalan kaki.
Yang terjadi pada Minggu (22/1) di Jalan Ridwan Rais, Tugu Tani, Jakarta, bisa dikatakan lebih disebabkan perilaku menyimpang pengendara, yakni sopir Xenia Afriyani Susanti yang ternyata mengonsumsi obat terlarang jenis ekstasi. Jelas ini sangat membahayakan, baik pada dirinya maupun orang lain. Terbukti ia tak bisa mengendalikan kendaraannya sehingga menabrak 12 pejalan kaki, dan sembilan orang terenggut nyawanya.
Di Kota Bandung, Dewi Rahmani, yang berusia belia, 19 tahun, nyawanya terenggut di jalan raya setelah berusaha menyalip bus Damri dari sebelah kiri. Ia menyenggol badan bus, terjatuh dan ia masuk ke kolong bus lalu tergilas. Mungkin ia sedang buru-buru sehingga berusaha menyalip bus atau bisa saja kurang terampil. Namun yang jelas, kita ikut berduka dan sangat prihatin dengan banyaknya korban nyawa di jalan raya.
Berkendara di jalan raya, apalagi dengan volume kendaraan yang kian banyak, sangat membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan. Kita memang dipacu oleh waktu dan kepentingan, tapi yang tidak boleh dilupakan adalah keselamatan kita sendiri dan juga orang lain. Kesadaran ini harus dimiliki oleh semua orang. Sebab, di jalan raya, tidak bisa hanya satu atau dua orang saja yang disiplin, tapi semua pengendara wajib disiplin.
Berkaca pada kecelakaan-kecelakaan fatal yang menelan korban nyawa, peran polisi lalu lintas dalam mengawasi para pengendara menjadi sangat penting sekarang ini. Bila melihat pengendara yang tidak disiplin, apalagi ugal-ugalan, tak perlu segan-segan lagi menindak.
Kalau pengendara makin tidak disiplin, kemudian polisi lalu lintas longgar dalam mengawasi, maka jalan raya makin menakutkan. Istilahnya dalam ungkapan bahasa Sunda, berada di jalan raya sekarang ini inggis batan maut hinis. Artinya sangat menakutkan. Arti harfiah inggis artinya takut, batan artinya daripada, maut artinya mencabut, hinis artinya bilah bambu. Kalau jalan raya sudah menakutkan seperti itu, maka rasa nyaman dan rasa aman di negeri ini benar-benar telah hilang. (*)