Jembatan Bambu Sungai Citarik Berusia 30 Tahun dan Lapuk Masih Digunakan Warga

Kondisi jembatan bambu penghubung antara Kecamatan Solokanjeruk dengan Kecamatan Rancaekek mengkhawatirkan dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar.

Jembatan Bambu Sungai Citarik Berusia 30 Tahun dan Lapuk Masih Digunakan Warga
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Jembatan bambu penghubung antara Kecamatan Solokanjeruk dengan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, kondisinya mengkhawatirkan dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kondisi jembatan bambu penghubung antara Kecamatan Solokanjeruk dengan Kecamatan Rancaekek mengkhawatirkan dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar.

Melintang di atas Sungai Citarik, jembatan bambu ini menjadi jalur alternatif bagi warga dari dua wilayah, yakni Kampung Rancakemit, Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk dan Kampung Rancakemit, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek.

Jembatan yang memiliki panjang 50 meter ini, hanya memiliki dua batang bambu berdiameter 20 sentimeter yang digunakan sebagai pijakan, serta bambu berdiameter 10 sentimeter digunakan sebagai pegangan dan dipasang di satu sisi.

VIDEO TPS Liar di Jalan Citarik Baru Bahayakan Pengendara

Jembatan hanya mampu dilintasi oleh satu pejalan kaki saja, sehingga warga dari dua desa yang hendak menyeberang harus bergiliran.

Pantaun Tribun Jabar, Kamis (2/5/2019), beberapa bagian pada jembatan tersebut sudah rusak, sehingga saat digunakan oleh warga untuk melintas, jembatan itu pun goyang. Warga harus berjalan pelan dan berhati-hati.

Saat volume air Sungai Citarik meningkat, permukaan kerap hampir merendam bagian jembatan, sehingga beberapa komponen pada jembatan tersebut lapuk dan hilang tersapu arus sungai.

Jembatan bambu penghubung antara Kecamatan Solokanjeruk dengan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Sumedang, kondisinya mengkhawatirkan dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar.
Jembatan bambu penghubung antara Kecamatan Solokanjeruk dengan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, kondisinya mengkhawatirkan dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Warga Kampung Rancakemit, Kecamatan Solokanjeruk, Hendi (56), bercerita bahwa jembatan tersebut sudah ada lebih dari 30 tahun dan sengaja dibangun untuk memudahkan para buruh tani dari dua desa tersebut untuk beraktivitas.

"Orang tua saya salah satunya yang membuat jembatan ini, dahulu cuma pakai bambu-bambu kecil," kata Hendi di sekitar Sungai Citarik, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Kamis (2/5/2019).

Sempat Kesulitan, Tim SAR Temukan Kakek yang Hanyut di Sungai Citarik, Korban Sudah Tak Bernyawa

Hendi menuturkan, jembatan tersebut dibuat secara swadaya oleh warga dari dua desa dan semua pengerjaan dilakukan oleh warga, sebagai upaya untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan.

Ia menambahkan, jembatan tersebut beberapa kali diperbaiki warga saat air Sungai Citarik surut.

"Sudah tidak terhitung berapa kali diperbaiki, pokoknya setiap tahun pasti," katanya.

Warga lainnya, Yanto Gunawan (45), mengatakan bahwa jembatan tersebut menjadi andalan dirinya saat beraktivitas dari Rancaekek menuju Solokanjeruk, karena hanya membutuhkan waktu lima menit saja.

"Meskipun suka goyang-goyang, tidak khawatir jatuh karena ada pegangan," katanya.

TPS Liar di Jalan Citarik Baru Bahayakan Pengendara Kendaraan Bermotor

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Theofilus Richard
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved