Tips Cegah Demam Berdarah atau DBD, Termasuk Tidak Gantung Pakaian Bekas Pakai

Ternyata nyamuk aedes aegypti tidak hanya berkembang biak di genangan air melainkan juga di pakaian bekas pakai yang digantungkan.

DOKUMENTASI KOMPAS
Waspada Nyamuk Demam Berdarah. 

TRIBUNJABAR.ID- Risiko munculnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) makin meningkat seiring tingginya intensitas hujan di beberapa daerah akhir-akhir ini.

Nyamuk aedes aegypti, penyebar penyakit demam berdarah dengue berkembang biak cepat sepanjang musim hujan karena adanya genangan air di lingkungan tempat tinggal.

Meski begitu, kasus senyakit demam berdarah dengue (DBD) tidak muncul hanya selama musim hujan.

Ternyata nyamuk aedes aegypti tidak hanya berkembang biak di genangan air melainkan juga di pakaian bekas pakai yang digantungkan. Ini disebabkan nyamuk tersebut menyukai aroma keringat manusia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, masyarakat dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit DBD dengan lebih memperhatikan kebersihan lingkungan.

Penderita Demam Berdarah di Kabupaten Sumedang Bertambah Jadi 99 Orang

Dua Warga Kota Tasikmalaya Meninggal Dunia karena DBD, Total Terjadi 53 Kasus DBB

"Masyarakat juga waspada untuk lebih perhatian bila demam segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan, menghindari gigitan nyamuk di rumah, memastikan tidak ada baju yang bergelantungan," kata Nadia kepada Kompas.com, Selasa (29/1/2019).

Pakaian bekas pakai yang digantungkan dapat menjadi tempat persembunyian nyamuk yang membawa virus DBD.

Menurut Nadia, penyakit demam berdarah hingga saat ini masih menjadi ancaman karena belum baiknya masyarakat menjaga lingkungan sekitar.

"Virus dengue ada di sekitar kita. Pada musim hujan adalah saat nyamuk berkembang biak sehingga pertambahan nyamuk sangat cepat. Di saat musim kemarau, telur nyamuk yang mengering tidak dapat berkembang jadi nyamuk dewasa karena tidak ada media air tapi saat musim hujan nyamuk cepat bertambah," kata dia.

Nadia menambahkan, orang yang sakit demam berdarah tiga-lima hari sebelum merasakan demam sebenarnya sudah mengandung virus dengue di darahnya. Karena ia digigit nyamuk, dengan mudah virus itu tersebar ke orang lain.

Ia memaparkan, masyarakat dapat mengurangi risiko penyakit ini dengan memberantasan sarang nyamuk dengan 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur barang-barang tidak terpakai yang dapat menimbulkan genangan air.

"Bila perlu melakukan fogging (pengasapan)," ujar dia.

FOGGING -- Menyusul ada 6 warga RW 07 di Kelurahan Cibadak yang terkena demam berdarah, warga lakukan fogging untuk memberantas nyamuk aedes aegypti, Rabu (6/8/2014).
Menyusul ada 6 warga RW 07 di Kelurahan Cibadak yang terkena demam berdarah, warga lakukan fogging untuk memberantas nyamuk aedes aegypti, Rabu (6/8/2014). (TRIBUN JABAR / TIAH SM)

Selain itu, masyarakat dapat mendaur ulang barang bekas, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah.

Nadia mengatakan nyamuk aedes aegypti menggigit pada pagi hari sekitar pukul 08.00-11.00 dan sore hari sekitar pukul 15.00-17.00.

Halaman
12
Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved