Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Setelah Buta Warsita Dicerai Suami dan Ditinggal Mati Anak

Sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah buta karena tersengat listrik, Warsita dicerai suami dan ditinggal mati anak.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Setelah Buta Warsita Dicerai Suami dan Ditinggal Mati Anak
Tribun Jabar/ Hakim Baihaqi
Warsita (22), warga Kampung Garung, RT 2/8, Desa Laksana Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, yang mengalami kebutaan setelah tersengat listrik empat tahun lalu. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga mungkin dirasakan oleh Warsita (22), warga Kampung Garung, RT 2/8, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Pada awal 2014, saat tengah mencuci piring di kamar mandi belakang rumah, Warsita tersengat listrik. Ia tersengat kabel listrik bertegangan tinggi di atap rumah yang mengelupas. Kabel tersebut mengenai kepala bagian atas.

Akibat kejadian nahas tersebut, Warsita mengalami gangguan penglihatan hingga berujung pada kebutaan total. Bahkan ia pun kesulitan berjalan karena kerap kesemutan dan mengalami kram.

Beberapa pekan setelah kejadian nahas tersebut, Warsita diceraikan suaminya, karena alasan kelumpuhan.

"Awalnya ditalak oleh suami, setelah itu suami hilang tidak tahu ke mana. Kemarin dapat kabar, katanya sudah nikah lagi, sudah punya anak," kata Warsita di kediaman neneknya di Kampung Garung, Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Kamis (20/12/2018).

Dari hasil pernikahannya dengan Riki, Warsita dikarunia seorang anak berjenis kelamin laki-laki bernama Restu Wijaya yang menemani kehidupannya.

Tersengat Listrik saat Mencuci di Kamar Mandi, Wanita Asal Ibun Ini Harus Mengalami Kebutaan

Namun, beberapa saat setelah diceraikan oleh suaminya, Restu yang berusia 1,5 tahun mengalami sakit keras. Restu dilarikan ke rumah sakit, tapi pada akhirnya meninggal dunia.

"Saya tidak tahu, dapat kabar kalau anak saya meninggal dari keluarga," ujar Warsita.

Kebutaan total yang dialaminya membuat Warsita kesulitan. Untuk menuju satu ruangan ke ruangan lainnya, Warsita hanya meraba-raba bagian bilik rumah sebagai alat bantu berjalan. Terkadang ia dibantu oleh saudara atau orang tuanya.

Warsita bercerita, pascakejadian nahas tersebut ia tidak kuat melangkah lebih lama, karena kerap mengalami kesemutan hingga kram.

"Kadang - kadang kalau mau makan atau minum disediakan, sudah tidak kuat berjalan," katanya.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved