Safa'at Tuangkan Rindu Pada Ayah Lewat Karya Seni

Ketika rasa rindu datang, Safa'at mendengarkan lagu balada legendaris Ebit G Ade berjudul 'Titip Rindu Buat Ayah', yang kemudian muncul inspirasi untu

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Theofilus Richard
Tribun Jabar/Putri Puspita
Safa'at bersama hasil karyanya 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menjadi mahasiswa rantau membuat perupa muda asal Bogor, Safa'at, harus menahan rindu kepada kedua orang tuanya.

Ketika rasa rindu datang, Safa'at mendengarkan lagu balada legendaris Ebit G Ade berjudul 'Titip Rindu Buat Ayah', yang kemudian muncul inspirasi untuk karyanya.

Kini karya lukisan di atas kanvas bertajuk "Jadi" dipamerkan di Galeri Seni Popo Iskandar mulai 2-10 Oktober yang bisa Anda nikmati pukul 10.00-16.00 WIB.

Dalam melakukan interpretasi terhadap karya lagu ini, Safa`at mencoba menggali latar belakang keluarganya yang berasal dari masyarakat agraris. Sang ayah, bertani dan bercocok tanam sebagai mata pencahrian utama.

"Kebetulan ayah saya seorang petani, apa yang lagu itu ceritakan menjadi peristiwa yang nyata. Lagu ini juga memberikan pengalaman batin yang berbeda untuk saya," ujar Safa'at saat ditemui Tribun Jabar di Jalan Setiabudi No No 235B, Senin (2/10/2018).

Masa Peralihan, Potensi Gerakan Tanah di Jabar Lebih Tinggi Dibanding Musim Kemarau

Makan Siang di Mana? Ragam Menu Rice Bowl di Bandung Ini Bisa Anda Cicipi

Dalam 5 seri karya-karya Safa'at ini, Ia menghadirkan citra figur pria tua yang direferensi dari ayahnya untuk mewakili citra petani atau masyarakat agraris di Indonesia.

Melalui penelusuran terhadap memori masa kecil di mana sang ayah kerap menceritakan lika liku kehidupan sebagai petani.

Kisah-kisah yang sewaktu kecil dituturkan kepadanya, saat diresapi di masa dewasa, ternyata lebih cenderung sebagai suasana yang tidak menguntungkan atau pun mungkin dapat dikatakan sebagai kisah-kisah yang tidak membahagiakan.

" Karya saya menggunakan teknis realis, dan menggunakan warna-warna dingin seperti abu-abu, hijau tosca," ujar Safa'at.

Dengan teknis yang cenderung realis, dan pewarnaan yang lebih imajinatif ataupun cenderung surrealis, Safa`at melukiskan berbagai gestur, ekspresi dan sudut pandang dari figur ayahnya tersebut.

Komposisi yang terbangun berdasarkan berbagai objek yang merupakan metafora dari apa yang terjadi ataupun yang disampaikan dalam karya lukis tersebut.

Misalnya saja kehadiran objek sandal jepit yang merupakan representasi perjalanan dan pengalaman hidup sang ayah, juga kehadiran obyek padi yang juga merepresentasikan kehidupan masyarakat agraris dan representasi dari kemakmuran.

Melalui karya ini pula dengan keheningannya, karya Safa'at berusaha memberikan perghormatan terhadap figur ayahnya yang telah menjalani kehidupan agrarisnya dengan segala lika-likunya untuk menghidupi keluarganya hingga mampu mengantarkan dirinya menyelesaikan bangku kuliah.

Baginya, ini adalah penghargaan kecil dan sunyi yang ia sampaikan untuk sang ayah.

Makan Siang di Mana? Ragam Menu Rice Bowl di Bandung Ini Bisa Anda Cicipi

Cerita Iman, Korban Gempa-Tsunami Sulteng, Tertahan di Bandara dan Kelaparan: 4 Hari Enggak Makan

Gunung Soputan di Sulawesi Utara Berstatus Siaga, Ini Penjelasan Badan Geologi

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved