Ratusan Warga Kampung Adat Cireundeu Sungkem ke Tokoh Adat, Rayakan 1 Sura 1952 Saka Sunda

Lantunan musik kecapi suling mengiringi ratusan masyarakat Kampung Adat Cireundeu saat sungkeman kepada sejumlah tokoh kampung adat, pada peringatan t

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Theofilus Richard
Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Warga saat sungkem ke Tokoh Kampung Adat Cireundeu 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Lantunan musik kecapi suling mengiringi ratusan masyarakat Kampung Adat Cireundeu saat sungkeman kepada sejumlah tokoh kampung adat, pada peringatan tutup tahun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda.

Peringatan yang bertepatan dengan 1 Muharam 1440 Hijriyah tersebut digelar warga setempat di Bale Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Selasa (11/9/2018).

Prosesi adat dibuka oleh seorang sesepuh adat yang memberikan wejangan, kemudian berdoa bersama agar tradisi di kampung adat tetap terjaga dan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dari hasil pertanian yang setiap tahunnya berlimpah.

Warga yang mengikuti peringatan 1 Sura itu semuanya terlihat mengenakan pakaian adat kebaya putih untuk perempuan dan pangsi hitam untuk laki-laki.

Setelah sungkeman, mereka makan bersama dengan sajian utama Kampung Adat Cireundeu yakni nasi berbahan singkong. Kemudian sebagian warga berziarah ke makan leluhurnya.

Jelang Persib Bandung vs Arema FC, Maung Bandung Dapat Tekanan dari Bali United

Begini Awal Mula Rumah Pak Eko Dikepung Bangunan Tetangga, Penghuni pun Terpaksa Angkat Kaki

Menurut seorang tokoh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi (56), peringatan tutup taun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda tersebut karena masyarakat memiliki tujuan menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah Kampung Adat Cireundeu.

"Berarti warga harus ingat dengan sejarah karena yang namanya adat istiadat termasuk tradisi kasundaan khususnya disini dan umumnya di Jawa Barat harus tetap dijaga," ujarnya saat ditemui di Kampung Adat Cireundeu, Selasa (11/9/2018).

Terkait sungkeman yang dilakukan ratusan masyarakat terhadap para tokoh adat, menurutnya, sebagai bentuk memperlihatkan etika terhadap orang yang dianggap lebih tua.

Dalam sungkeman tersebut, mereka saling meminta maaf layaknya saat umat Islam merayakan Idulfitri.

"Mereka minta maaf kepada yang lebih tua dan orang yang dianggap dituakan juga pasti memaafkan karena dalam acara sakral seperti ini berbeda seperti mereka bertemu sehari hari," katanya.

Luis Milla Belum Tentu Mau Kembali Melatih Timnas Indonesia

Ketika acara sungkeman, ditengah Bale terdapat sesaji, semisal bunga, daun sereh, kelapa dan berbagai hasil pertanian, sehingga mereka mengelilingi sesajian tersebut.

Bunga yang terdapat pada sesaji itu, kata Abah Widi, sebagai simbol pewangi agar masyarakat dan Kampung Adat Cireundeu bisa harum. Dalam hal ini masyarakatnya diharapkan bisa mengharumkan nama bangsa khususnya Jawa Barat.

"Selain itu pada tahun Saka Sunda ini, masyarakat diharapkan bisa saling mengingatkan terkait sejarah karena sejarah sampai kapanpun jangan sampai dilupakan," kata Abah Widi.

Untuk itu masyarakatnya diwajibkan untuk mengikuti acara peringatan tutup tahun 1951 ngemban taun 1 Sura 1952 Saka Sunda tersebut lantaran kegiatan itu termasuk sejarah orang sunda.

"Sejak adanya Kampung Adat Cireundeu acara ini hingga sekarang, setiap tahun terus digelar karena kampung adat termasuk tatar sunda di Jawa Barat, berarti budayanya wajib untuk dijaga," katanya.

Donald Trump Geram Nike Pilih Colin Kaepernick Jadi Wajah Baru Produknya

Pemkot Cimahi Disarankan Ubah Bangunan Tua Bersejarah RPH jadi Tempat Wisata Modern

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved