Berkaca dari Polemik Ustaz Evie Effendie, Ahmad Bukhori: Perlu Ada Standarisasi Ulama

Ahmad mengatakan, karena banyaknya video ceramah di medsos, jangan sampai literatur keagamaan menjadi bias.

Berkaca dari Polemik Ustaz Evie Effendie, Ahmad Bukhori: Perlu Ada Standarisasi Ulama
Tribun Jabar/Theofilus Richard
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ahmad Bukhori, saat menjawab pertanyaan wartawan di Alun-alun Kota Bandung, Kamis (26/10/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Barat, Ahmad Bukhori, mengatakan, pihaknya akan mengadakan pertemuan guna membahas pengawasan video ceramah di media sosial (medsos).

Kemenag nantinya berencana mengajak beberapa pihak yang memiliki kapabilitas dalam bidangnya.

"Pengaruh medsos (sekarang) sangat luar biasa, hal semacam ini juga nanti kita akan adakan semacam pertimbangan dari ahli IT, dari MUI, dari ormas Islam besar, dan kita akan mengadakan pertemuan untuk masalah itu," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (15/8/2018).

Ahmad mengatakan, karena banyaknya video ceramah di medsos, jangan sampai literatur keagamaan menjadi bias.

"Makanya, ini menjadi penting, karena nanti lama-lama pengaruh medsos (semakin kuat), tapi pengontrol kurang. Di medsos, kadang ada yang menyelam sambil minum air dan nambah bumbu-bumbu (dalam ceramahnya)," katanya.

Tendangan Bebas Lord Atep Buat Persib Bandung Unggul Sementara 2-1 dari PSKC Cimahi

Selain pengawasan di medsos, kata Ahmad, sertifikasi atau standardisasi mubalig juga dirasa perlu dilakukan.

Mubalig, ujarnya, harus memiliki standar tersendiri, terutama pada aspek ilmu agamanya.

"Harus punya standar lah, harusnya sadar kalau mubalig belum waktunya jangan maksain diri, minimal mubalig baca Alqurannya bener, rujukanya juga jelas, Alquran dan hadis ditafsirkan sesuai. Saya sayangkan, kalau kepopuleran (mubalig) itu jangan membuat lupa bahwa agama itu luar biasa, jangan sampai keluarbiasan agama itu tertutup dengan popularitas yang dia miliki, sehingga substansi agama (dianggap) tidak menjadi penting," katanya.

Ahmad mengatakan, kewenangan untuk sertifikasi mubalig atau ulama itu kini ada di MUI, kemenag hanya bertindak sebagai fasilitator.

Nama Tetap Tol Cigatas, tapi Mulai dari Gedebage sampai Cilacap, Terkoneksi dengan Tol Cisumdawu

Diakuinya, sertifikasi mubalig saat ini memang masih wacana.

"Sebenarnya ini lebih ke standardisasi ulama, kalau sertifikasi itu terlalu formal betul (bahasanya). Kalau itu kan sekarang ranah dari MUI ya, jadi itu proses untuk standardisasi ulama di bawah kewenangan MUI, Kemenag jadi fasilitator saja. Nanti standarnya yang mengerti orang layak atau tidaknya (menyampaikan ceramah) itu MUI, dan itu proses, sekarang masih wacana, itu bisa terjadi atau tidak," katanya.

Penulis: Yongky Yulius
Editor: Yudha Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved