Sorot

Beslissingen Niet Verstandig

Sejak kemunculannya, patung Daendels dan tiga tohoh nasional itu segera saja menjadi perbincangan. Sejumlah warga mengaku heran.

Beslissingen Niet Verstandig
Tribun Jabar
Patung Daendels di Kiloketer Nol Kota Bandung 

ADA pemandangan berbeda di kilometer nol Kota Bandung di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat di Jalan Asia Afrika.

Empat patung headshot (bagian kepala dan dada) tokoh penting sejarah kota ini dipasang sejak beberapa hari yang lalu. Yakni, presiden pertama RI, Ir Soekarno; gubernur pertama Jabar, Mas Soetardjo Kertohadikusumo; bupati keenam Bandung, RA Wiranatakusumah II, dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Meester in de Rechten Herman Willem Daendels.

Sejak kemunculannya, keempat patung itu segera saja menjadi perbincangan. Sejumlah warga mengaku heran. Kok, bisa-bisanya patung tokoh penjajah disandingkan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional.

Tapi, tentu saja, bukan tanpa alasan patung Daedels ikut dibuat dan dipajang di sana.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Jabar, M Guntoro, kepada Tribun, Kamis (12/1), pemasangan patung Daendels bersama ketiga tokoh nasional itu mereka lakukan karena keempatnya adalah bagian dari sejarah. Dan, sebagai bagian sejarah, kata dia, "Itu tak berlebihan."

Sejatinya, Daendels memang berperan sangat penting dalam suksesnya pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan.

Pembangunan jalan ini kemudian mendorong terciptanya Bandung yang semula hanya sebuah dusun kecil menjadi kota yang modern.

Tahun 1810, usai menyeberangi jembatan Sungai Cikapundung yang baru ia rampungkan pembangunannya, sambil menancapkan tongkat yang kemudian menjadi titik kilometer nol Kota Bandung, Daendels berucap, "Zorg dat als ik trug kom nier een stad is gebound." (Coba usahakan bila aku datang lagi ke sini, di tempat ini harus sudah dibangun sebuah kota).

Perintah inilah, yang kemudian membuat orang-orang bergegas membangun Bandung. Terlebih, tak lama berselang, instruksi perpindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke sisi Groote postweg juga muncul melalui surat perintah tertanggal 25 September 1810, tanggal yang kemudian diabadikan sebagai hari jadi Kota Bandung.

Namun, kembali ke soal Daendels, adalah fakta bahwa pria kelahiran Prancis yang meninggal pada usia 55 tahun di negeri yang dibelanya, Belanda, ini seorang tokoh penjajah. Ini membuat sebesar apa pun perannya bagi keberadaan Bandung, menyandingkannya dengan tokoh-tokoh nasional dalam monumen itu tetap saja terasa mengganjal. Beslissingen niet verstandig, keputusan yang rasa-rasanya kurang bijaksana.

Untuk membangun jalan sepanjang 1.228 kilometer ini, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat.

Perdana Achmad dalam "Jalan Pos Anyer-Panarukan, Jalan Raya Paling Bersejarah di Indonesia", bahkan menulis, priyayi atau penguasa pribumi yang gagal mengerjakan proyek tersebut, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pohon-pohon kiri-kanan ruas jalan.

Dengan tangan besinya, proyek jalan akhirnya bisa diselesaikan dalam hanya dalam setahun (1807-1808). Ini prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Namun, bagi bangsa ini, semua itu harus dibayar dengan sangat mahal. Hingga pembangunan jalan ini selesai, sedikitnya 24 ribu anak bangsa meninggal. Itu belum termasuk korban-korban yang tidak terdata.

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved