Rabu, 10 Juni 2026

Sepak Bola Politik

SEPAK bola di Indonesia tidak lepas dari politik. Buktinya Persib harus rela menunda dua jadwal pertandingan kandang hanya karena jadwal

Tayang:
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Darajat Arianto
* Deni Ahmad Fajar, Wartawan Tribun

SEPAK bola di Indonesia tidak lepas dari politik. Buktinya  Persib harus rela menunda dua jadwal pertandingan kandang hanya karena jadwal tersebut berada di bulan yang sama dengan pemilihan Gubernur Jawa Barat. Padahal seharusnya sepak bola lepas dari urusan politik.

Dua laga kandang Persib yang terpaksa ditunda adalah lawan Persiba Balikpapan dan Barito Putra. Tarung lawan Persiba yang seharusnya digelar pada 9 Februari 2013, diundur ke tanggal 31 Maret 2013. Sedangkan pertandingan melawan Barito yang seharusnya dimainkan 13 Februari 2013, diundur ke tanggal 27 Maret 2013.

Perubahan dua pertandingan melawan Persiba dan Barito tersebut juga menggeser jadwal pertandingan kandang Persib lainnya, yaitu melawan Persita Tangerang. Pertandingan melawan Persita  yang semula diagendakan 28 Maret 2013 menjadi Senin 8 April 2013.

Bagi saya kenyataan ini sangat memprihatinkan. Pasalnya perubahan jadwal ini bukan hanya menjadi penanda bahwa pengelola kompetisi sepak bola di tanah air belum profesional, namun juga menjadi fakta bahwa power politik sudah sangat menguasai olahraga, khususnya sepak bola.

Kalau mau diambil sisi positifnya dari kasus ditundanya jadwal pertandingan Persib hanya karena ada yang sedang pesta berburu kursi gubernur, kasus itu mari kita jadikan sebagai bahan introspeksi. Pasalnya sangat mungkin penundaan jadwal tersebut karena pihak keamanan tidak mau terjadi "amuk penonton" sepak bola yang bisa mengganggu pesta demokrasi bertajuk Pilgub Jabar. Bila itu alasannya, kita sebagai penggila sepak bola (termasuk bobotoh) pantas merenung.

Pasalnya sebagai penonton sepak bola, kita masih dicap sebagai sekelompok orang barbar yang bisa dengan enteng mengamuk dan merusak apa saja hanya karena tim kesayangan kita ditaklukkan lawan. Kita pantas berintrospeksi karena sebagai penonton sepak bola, kita belum tahu peran kita.

Contoh lain sepak bola tidak bisa menepiskan lengan politik, adalah berbondongnya mereka yang mengincar kursi gubernur dan wali kota, "berziarah" ke proyek stadion yang sekarang sedang dibangun di wilayah Gedebage. Jelas sudah, mereka bukan hanya ingin mengetahui sampai dimana proyek stadion itu berjalan tapi mereka ingin menyatakan diri sebagai sosok yang paling cinta sepak bola (baca: Persib). Bukankah di belakang nama Persib ada puluhan ribu bahkan ratusan ribu bobotoh. Apa hubungannya bobotoh dengan Pilgub atau Pilwalkot, ah masa yang beginian harus dijelaskan pula.

Konon ditunjukkan Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga menggantikan Andi Alfian Mallarangeng, juga sarat muatan politik. Soal muatannya seperti apa saya tidak tahu pasti. Yang pasti Roy yang ahli telematika itu kini menjadi Menpora yang tugasnya membenahi benang kusut penanganan olahraga di Indonesia. Dan agar olahraga di Indonesia tidak terus kusut, salah satunya adalah menepiskan politik dari ranah yang mengagungkan fair play dan sportivitas ini. ***

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved