Sabtu, 30 Mei 2026

Ketika Anak-anak Ditegur Presiden

dengan kepolosan anak-anak, selain berbincang, sebagian anak justru mengantuk hingga tertidur mendengar sambutan sang Presiden.

Tayang:
Editor: Darajat Arianto
* Darajat Arianto, Wartawan Tribun

KEMARIN merupakan puncak peringatan hari anak nasional yang sejatinya diperingati setiap 23 Juli. Peringatan secara nasional dipusatkan di Theater Imax Keong Emas, TMII, Jakarta, Rabu (29/8). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara hadir bersama sejumlah menteri kabinet.

Seperti biasa, SBY berpidato dengan mengungkapkan sejumlah keinginan dan harapan. Di antaranya agar anak-anak Indonesia di masa depan bisa banyak prestasinya dan juga menjadi pribadi yang maju, unggul dan sejahtera.

Sebaliknya, dengan kepolosan anak-anak, mereka tetap saja anak-anak. Selain berbincang dengan yang lain, sebagian anak justru mengantuk hingga tertidur mendengar sambutan sang Presiden. Melihat ini Presiden menegur dan minta anak-anak yang tertidur dibangunkan.

Teguran Presiden ini melengkapi beberapa teguran pada hadirin saat SBY berpidato. Sebelumnya, SBY menegur undangan pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, Selasa (5/6/2012). SBY juga menegur perwira yang mengobrol saat ia memberi kuliah di Sekolah Calon Perwira TNI AD, Bandung, Jumat (30/3/2012).

Teguran memang baik untuk perbaikan kita ke depan. Namun teguran kepada anak-anak dalam suasana tersebut sepertinya tidak perlu disampaikan. Biarkan anak-anak dengan dunianya. Sebaliknya orangtua diminta pengertiannya terhadap sifat anakanak. Bukan tak mungkin mereka ketiduran lantaran kecapekan mempersiapkan diri untuk menyambut Presiden. Sikap mereka toh tidak sampai mengganggu. Justru jangan-jangan isi pidato yang tidak menarik membuat anak-anak tertidur.

Di sisi lain, peringatan Hari Anak Nasional sebaiknya jangan sekadar seremoni. Peringatan haruslah menjadi momentum perbaikan masa depan anak dengan program yang berpihak pada anak-anak.

Siapapun yang peduli dengan masa depan umat manusia, mereka harus peduli terhadap anak-anak. Apapun status anak itu, hakhaknya seperti hak bermain, pendidikan, dan kasih sayang harus dipenuhi.

Kasih sayang terhadap anak bisa dengan mencontoh Rasulullah Muhammad Saw yang selalu cinta anak-anak. Rasulullah selalu sabar, menyayangi dan senang bersama anak-anak. Beliau bahkan selalu mengucapkan salam kepada mereka, menyalami dan memberikan sesuatu. Sikap yang dicontohkan Rasul ini hendaknya menjadi acuan kita dalam memperhatikan anak-anak.

Untuk itulah, sejak balita, anak-anak mesti diajari hal yang baik. Tunjukan sikap yang toleran dan terbuka, sifat sabar, penyayang, penyantun dan lainnya. Jangan pertontonkan mereka dengan tayangan yang buruk seperti beberapa sinetron di televisi. Tontonan yang jahil, kasar dan penuh dendam akan membuat mereka terobsesi mengikuti sifat tersebut sebagai cara penyelesaian masalah.

Demikian pula dengan orang tua, kalangan elite partai, anggota dewan, dan pejabat pemerintah, jangan menunjukkan sikap yang kasar dan penuh amarah. Sikap seperti itu bukan tak mungkin bakal ditiru anak-anak sebagai calon pemimpin masyarakat.

Ego orangtua harus ditekan, mereka seharusnya bisa menyisihkan  waktu untuk anak-anak, jangan menyisakan waktu buat mereka. Memperhatikan anak-anak di waktu yang tersisa, hasilnya tidak akan optimal karena biasanya merupakan tenaga sisa saja. Beda halnya dengan menyisihkan waktu karena hal itu sudah diniatkan, terjadwal dan ada alokasi waktu.

Masih banyak juga orangtua yang depresi dan melampiaskan amarahnya kepada anak. Beberapa kasus membuat anaknya menderita secara fisik dan mental, bahkan beberapa diantaranya membuat nyawa  sang anak melayang.

Kenyataan ini harus menjadi teguran keras buat pemerintah dan masyarakat. Pengawasan melekat terhadap masyarakat melalui RT dan RW perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi keluarga sebenarnya. Tujuannya agar perilaku seseorang dalam keluarga dan masyarakat menjadi lebih baik. Terutama agar kekerasan terhadap anak bisa diminimalisasi. Lebih jauh lagi agar hakhak mereka selalu terpenuhi untuk masa depan anak yang lebih baik. Selamat Hari Anak. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved