Ling Lang Ling Lung 2012

HMMM, berak perdanaku di tahun 2012 ternyata tercium hingga jauh ke istana negara. Ini membuatku gimana gitu. Duh malu-maluin aja deh daku ini. Lebih malu lagi ketika aroma ini diapresiasi Yudhoyono sebagai isyarat langitan yang patut dipertimbangkan untu

HMMM, berak perdanaku di tahun 2012 ternyata tercium hingga jauh ke istana negara. Ini membuatku gimana gitu. Duh malu-maluin aja deh daku ini. Lebih malu lagi ketika aroma ini diapresiasi Yudhoyono sebagai isyarat langitan yang patut dipertimbangkan untuk dipelajari dan dijadikan resolusi 2012. "Aroma berak lansia memang luar biasa," ucap Yudhoyono. "Harum dan tidak haram untuk disedot sesama lansia di ruang bercahaya cinta."
Cahaya cinta? Yudho mantuk-mantuk. Ia bersandar di dinding toilet 2014. Pupil matanya bernyanyi tentang hedonesia ria, "Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, tetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun." Terjemahan bebasnya, tertelikung bingung, sendiri, bisu. Terpuruk di sudut pucat. Tetapi selalu saja ada konflik bermahkota amarah. Ada unjuk tarung di sebuah ruang tanpa cahaya. Dan suara risau terasa semakin jauh.
Saya tepuk tangan. Meski belum cebok, saya rangkul Yudho. Saya bisikkan pahatan teks kuno, "Pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kala menang, tan ana nirebut." Konflik di ujung pemberhalaan diri itu tidak bisa dihentikan! Mereka saling-silang berseteru memperebutkan pepesan kosong. Mereka cuma seonggok hantu yang menjahit kekalahan dan kekerdilan di atas involusi kloset berbau busuk.
Usai itu, kami berdua berlari riang. Sesekali kami bedua adu kencing dari atas Monas Jakarta. "Lihat kencingku kencang sekali, Yudho!" teriakku.
"Kencingku jauh lebih kencang, Tandiiiii!" teriak Yudho. "Lihat! Kucuran kencingku diperebutkan Prabowo Subiyanto, Mahfud MD, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Puan Maharani, Hatta Rajasa, dan entah siapa lagi!"
He-he-he-he, saya ngekek ngakak dan terbahak-bahak. Yudho emang sesuatu banget, deh! Saya tulis di mata kemayu Yudho, "Inilah nestapa Indonesia 2011, Yudho. Adalah tahun jental-jentul dengkul ngoplok ketika ada banyak ketakutan tidak bisa ditaklukkan. Kalender 2011 pating kelewer tebarkan aroma bom bunuh diri, tarian tuyul di ruang peradilan tipikor, polisi koboi dar-der-dor, politisi hedon yang membanci pamer harta takhta dan wanita, pengusaha mencret mensturasi kapitalistik, birokrat angrabeni dolar, bola yang tersangkut di tenggorokan Djohar, dan entah apa lagi selalu saja saja menyisakan air mata di lembaran kalender 2011."
Yudho nungging dan kentut! "Ah, saya sudah kentut, Tandi! Ini kentut perdanaku di tahun 2012! Kentutku jauh lebih sakti dibandingkan kentut Semar Kudapawana. Kentutku sejahterakan rakyat. Kentutku...."
"Kentut seorang presiden lebih didengar ketimbang teriakan sakaratul maut anak rakyat yang tewas di Papua, Bima, Mesuji," saya potong histeria kentut Yudhoyono.
"Mesuji?"
"Ya! Polisi ngesot di Mesuji?"
"Di Bima, polisi sarapan pelor mata Sape."
Saya tertawa. Joke Yudho pancen ok! Saya taruh Yudho di atas meja kerjaku. Saya paparkan bahwa Mesuji dalam utak-atik bahasa Jawa bermakna tikam (suji) sekaligus hidangan (sajen). Dalam mitologi Jawa Kuno, ritual suji sesajen menjadi bagian dari pepaten pepe—sejenis protes terhadap penguasa zalim—yang dilaksanakan di alun-alun di bawah lanskap matahari yang berkeringat. Pada saat suji sesajen itu, mengalirlah suara lirih teologi rakyat yang tertindas. "Mesuji saji, temuruna pepaten sujidharmono angrabeni sato khanti laku." Menikam di ruang persembahan disebabkan kematian seorang hamba yang terpuji, adalah lelaku buruk persetubuhan hewani. Persetubuhan hewani antara penguasa dan pengusaha di Mesuji akhir-akhir ini mengingatkan saya pada lorong muram mitologi Jawa Kuno itu. Rakyat terpuruk di sudut gelap dan di dalam gelap itu terdengar erangan ejakulasi mansturbasi kapitalisme.
"History teaches us that people have never learnt anything from history," bisik Yudho. "Sejarah mengajari kita bahwa manusia tidak pernah sukses belajar apa pun dari sejarah. Termasuk Timur Pradopo!"
"Timur?"
"Padahal ada cahaya sejarah yang membuat saya memilih Pradopo menjadi Kapolri. Ada dua hal substansional yang dimiliki Timur Pardopo. Pertama Pradopo memiliki kumis—rambut yang tumbuh di atas bibir di bawah hidung itu—sebagai tetenger. Era Majapahit, Jombang adalah daerah perdikan yang kerap dituturkan sebagai ruang asketis spiritual yang menginspirasi lahirnya Serat Kala Tida karya Ranggowarsito. Mangkya darajating praja. Kawuryan wus sunyaruri/Rurah pangrehing ukara/Karana tanpa palupi/Atilar silastuti. Terjemahan bebas: Negara porak poranda ambruk, tata nilai rusak, tak satu pun penggede negeri bisa dijadikan pola anutan. Manusia berpaling dari kearifan petuah lama."
Sesaat Yudho menghirup aroma amis mesiu, "Andai garis takdir genetika kultural itu diadop Timur Pradopo sebagai tuntunan dalam mengurai benang kusut konflik," lirih Yudho bertutur. "Ternyata, jauh kumis dari bibir!"
 "Langkah kalah yang pedih, Tuan Presiden," balasku. "Untuk itu kita perlu punya mimpi. Meski kita lansia, mari kita cantolkan mimpi di kaki senja yang gelisah. The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams."
"Kamu hebat, Tandi! Seharusnya bukan Anas yang duduk di kursi panas Demokrat."
Saya menunduk malu. Dipuji Presiden saja jadi klepek-klepek, apalagi dipuji Allah swt yang Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya coba tutupi kemaluanku dengan cara bertutur lebih formal, "Begini, Tuan Presiden, kebangsaan itu kudu diapresiasi sebagai refleksi solidaritas moral yang mensejarah sekaligus titik temu evaluasi empiris dengan proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan. Dalam perspektif sejarah, masa lalu itu bisa ditandai dengan zaman keemasan Pajajaran, Melayu, Aceh, Sriwijaya, Mataram, Mahapahit, Ceribon, Bima, dan entah apa lagi."
"Hmm, berapa nomor sepatumu, Tandi?"
"Saya lebih suka pake sandal jepit, Tuan Presiden."
"Itu lebih baik dibandingkan memakai sundal terjepit."
"Dari ziarah sejarah ini," kembali saya bertutur, "impian bisa jadi pusaran ilusi di ujung runcing tiang bendera yang tiap kali kita tengadah akan berkibar imajinasi bersifat kolektif holistik. Benedict Anderson menakwil sebagai imagined communities (komunitas terbayang). Adalah terbentuknya suatu negara dilandasi oleh sebuah utopia bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Sedangkan Bung Karno di depan peradilan 1930 melukisi impian itu dengan kalimat sangat bagus, 'Membangkitkan dan menghidupkan keinsafan rakyat yang pernah memiliki masa silam yang indah, masa kini yang gelap gulita, dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai, berseri-seri'."
**
PANYILEUKAN, Bandung, 1 Januari 2012, pukul 09.52.11 WIB saya berada di atas brankar bergerak menuju ruang bedah yang pucat. Saya berteriak bahwa berak perdana saya di tahun 2012 tercium hingga jauh ke Istana Negara. Tuan Presiden mencium aroma berak saya. Aneh, tidak satu pun perawat memercayai apa yang saya katakan itu.
Istriku yang bernama Angelina Sondakh terus-menerus, terus-terusan menangis. Brankar memasuki ruang bedah. Berhenti di sudut putih, bercahaya ribuan mayat. Ketika jarum suntik menusuk ruang sejarah, nalarku lengser ke titik nol. Dalam metamorfosis nol, saya lihat Tandi Skober melambaikan sajak "44" Toni Lesmana, "Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Ruang-ruang yang terus bersolek. Wajah-wajah penuh riasan. Aku hendak ke mana. Tanpa bekal. Sekadar petak umpet dengan satpam. Atau seperti eskalator macet. Diinjak dan dimaki. Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Aku asing dan terkucil."
***

Editor: Zelphi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved