Selasa, 26 Mei 2026

Hati-hati Penipuan Lewat QRIS dan Share Screen di WhatsApp, Begini Modusnya

Belakangan ini marak dua kasus penipuan yang viral yaitu penipuan modus QRIS dan scam lewat fitur Share Screen di WhatsApp.

Tayang:
Editor: Hilda Rubiah
Istimewa via TribunStyle.com
MODUS PENIPUAN DI WHATSAPP: Ilustrasi berbagai modus penipuan di WhatsApp mulai dari link undangan pernikahan hingga link promo. - Belakangan ini marak dua kasus penipuan yang viral yaitu penipuan modus QRIS dan scam lewat fitur Share Screen di WhatsApp. 

TRIBUNJABAR.ID - Semakin majunya digitalisasi semakin marak pula kasus penipuan.

Seperti belakangan ini marak dua kasus penipuan yang viral yaitu penipuan modus QRIS dan scam lewat fitur Share Screen di WhatsApp.

Penipuan modus scan QRIS

Kasus penipuan modus scan QRIS di WhatsApp saat belanja online viral setelah salah satu korbannya curhat di media sosial.

Curhatan tersebut berupa video yang diunggah oleh akun Instagram @uptodateinfo pada Sabtu (5/7/2025). 

Di dalam video itu, seorang perempuan menceritakan bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan dan mengalami kerugian sebesar Rp 1.010.000. 

“Setelah menjadi korban saat belanja online, wanita ini ceritakan modus pen1-pu4n baru agar tidak ada lagi korbannya,” bunyi keterangan dalam unggahan. 

Perempuan itu bercerita, peristiwa penipuan tersebut terjadi setelah dirinya berbelanja sampo seharga Rp 10.000 di aplikasi TikTok. 

Setelah itu, ada nomor WhatsApp yang mengaku dari pihak ekspedisi menghubunginya. 

“Aku angkat dan dia ngomong kalau paket atas nama aku salah kirim atau tertukar dengan pelanggan yang lain,” kata korban. 

Pelaku pun mengaku bahwa hal tersebut bukan kesalahan toko, melainkan pihak ekspedisi yang salah memasukkan nomor. 

Pelaku juga mengirimkan nomor resi palsu kepadanya. 

“Terus dia bilang ‘Kakak bersedia enggak menerima refund, jadi nanti kita cancel secara otomatis’,” ucap korban. 

Korban pun diminta untuk scan barcode QRIS yang telah disediakan oleh pelaku. 

Sebelum scan, sang korban diminta login ke akun mobile banking Mandiri miliknya terlebih dahulu. 

Setelah berhasil masuk ke Mandiri, korban scan barcode tersebut dan muncul nominal sebesar Rp 1.010.000. 

“Terus aku tanya ‘Ini kalau refund berarti kamu kasih ke aku itu sejumlah Rp 1.000.000, apa enggak kebanyakan Mas?’,” ujar korban. 

Pelaku pun menjawab tidak apa-apa dia mengirim uang Rp 1.010.000. 

Nanti, korban tinggal mentransfer balik sebesar Rp 1.000.000. 

“Nah di dalam itu kan kalau scan itu berarti dia kirim kan, terus udah kan. Dari situ aku kok ngerasa aneh, akhirnya aku cek, saldo aku kepotong Rp 1.010.000,” tutur korban. 

Terkait kasus tersebut, Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya menyebut, pelaku menggunakan modus penipuan QRIS Transfer. 

Dia mengungkapkan ada dua metode dalam QRIS, yakni QRIS Bayar dan QRIS Transfer. 

“Bedanya kalau QRIS Bayar, kita scan QRIS dari penjual, bisa QRIS statis (nominal pembayaran bisa diatur) atau QRIS dinamis (nominal sudah tertera dalam pembayaran),” kata dia kepada Kompas.com, Senin (7/7/2025). 

“Kalau QRIS Transfer, kita scan QRIS dari pengguna QRIS yang lain dan akun kita terdebet (langsung). Terdebet artinya akun kita ditarik dananya,” sambungnya. 

Baca juga: Waspada Penipuan! Pengamat Sebut Modus Titip Limit Paylater Manfaatkan Celah Kepercayaan Warga

Alfons mengimbau agar masyarakat bisa lebih berhati-hati setiap kali melakukan transaksi terhadap barang-barang murah di media sosial atau e-commerce. 

Masyarakat juga harus lebih berhati-hati kepada siapapun yang menghubungi, apalagi yang hingga meminta scan kode QR atau data, serta menjalankan aplikasi, dan hal-hal lainnya. 

"Karena transaksinya rentan digunakan untuk rekayasa sosial," pungkas Alfons.

Fitur Share Screen

Kasus kedua terkait penipuan di WhatsApp adalah scam alias penyadapan lewat fitur Share Screen.

Dilansir dari Kompas.com, modus scam lewat Share Screen WA ini tengah marak terjadi di berbagai wilayah, termasuk Amerika Serikat, India, bahkan di Indonesia. 

Pengguna aplikasi pesan instan terpopuler milik Meta ini diminta waspada agar tidak jadi korban. 

Fitur Share Screen di WhatsApp ini memungkinkan pengguna membagikan tampilan layarnya kepada lawan bicaranya. 

WhatsApp menyediakan opsi untuk membagikan layar satu aplikasi atau seluruh aktivitas layar.

Biasanya, penipuan dilakukan dengan mengirimkan link software berbahaya (malware) agar scammer bisa melihat isi ponsel. 

Namun, ada perkembangan baru yang berbahaya, yaitu para penipu kini menggunakan aplikasi populer yang sudah terpasang di iPhone atau Android pengguna, yakni Share Screen di WhatsApp

Menurut FBI, pelaku penipuan di AS menggunakan trik yang disebut phantom hacker scam. Awalnya, korban menerima telepon atau pesan yang berpura-pura berasal dari bank. 

Dengan alasan akun sedang diretas, korban diarahkan untuk segera memindahkan uang ke rekening "aman". 

Penipu akan memanipulasi dan menuntun korban agar mau percaya dan mengikuti langkah-langkah yang diberikan. 

Korban akan diarahkan untuk berpindah ke panggilan WhatsApp dengan dalih lebih aman. 

Di sanalah pelaku meminta korban mengaktifkan fitur Share Screen WA.  

Begitu korban membagikan layar saat video call, penipu dapat melihat semua aktivitas di ponsel secara real-time. 

Mulai dari isi chat, foto, kode OTP (One Time Password), informasi sensitif lain, termasuk informasi aplikasi finansial (nomor rekening, PIN, dll). 

"Cukup satu klik salah, dan mereka bisa melihat segalanya di layar smartphone Anda," tulis FBI dalam peringatannya. 

Dengan data pribadi tersebut, penipu bisa mengambil alih akun korban, menguras rekening, atau menyalahgunakan data pribadi.

Baca juga: Kasus Penipuan Lowongan Kerja Jadi Calon Pilot di Bandara Soetta, Para Korban Rugi Sampai Rp1,3 M

Waspada 5 Modus Penipuan Online Terbanyak di Jawa Barat

Ratusan orang jadi korban penipuan transaksi online setiap harinya di Indonesia.

Transaksi online sendiri merupakan proses transaksi yang sepenuhnya dilakukan melalui jaringan internet.

Tak seperti transaksi konvensional, transaksi online memungkinkan aktivitas jual beli hingga pembayarannya dilakukan secara digital.

Menjadi bagian hidup sehari-hari, ancaman penipuan transaksi online pun semakin marak.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setiap harinya terjadi sekitar 700-800 penipuan online di Indonesia.

Total kerugian akibat penipuan tersebut pun, menurut Indonesia Anti-Scam Center (IASC), mencapai Rp 4,6 triliun sepanjang November 2024 hingga Agustus 2025.

Masyarakat di Jawa Barat pun menghadapi risiko digital, dari penipuan, penyalahgunaan akun, hingga crowfunding palsu.

Untuk mengantisipasinya, DANA menghadirkan Posko Bantuan Keliling di sejumlah titik di Jawa Barat, termasuk Bogor (Parkiran Grand Central Bogor), Bekasi (Taman Hutan Kota), Bandung (Taman Musik), Cirebon (Alun-alun Kejaksaan Cirebon) serta Banten tepatnya di Tangerang (Taman Kota 1 BSD) sepanjang bulan September. 

Layanan tersebut untuk memfasilitasi pelaporan kendala transaksi hingga memberikan edukasi keamanan digital untuk masyarakat.

Ini lima modus kejahatan digital yang paling sering ditemui di Jawa BArat dan Banten berdasarkan data dari DANA:

1. Akun Diambil Alih Penipu

Modus ini terjadi ketika pelaku berhasil menguasai akun digital korban, mulai dari media sosial hingga dompet digital, yang biasanya dilakukan lewat phishing, malware, atau kebocoran data.

Pelaku kemudian mengganti kata sandi dan mengambil kendali penuh atas akun. Korban bisa mengalami kerugian finansial maupun penyalahgunaan identitas. 
Maka, penting untuk selalu berhati-hati mengklik tautan, memeriksa keaslian situs, menggunakan kata sandi berbeda di tiap akun, serta aktifkan keamanan berlapis. 

DANA memiliki fitur Scam Checker untuk membantu pengguna belajar mengenali tautan atau akun mencurigakan, sekaligus memahami cara menjaga keamanan transaksi secara praktis. 

2. Transaksi Palsu Pakai Bukti Transfer 

Modus transaksi bodong terjadi ketika pelaku mengirim bukti transfer atau resi palsu untuk mendesak pembayaran. 

Cegah hal ini dengan memastikan pembayaran lewat kanal resmi, mengecek reputasi penjual lewat ulasan pembeli sebelumnya, serta verifikasi informasi kontak. 

Hindari tergesa-gesa mengirim barang atau melakukan pembayaran sebelum menerima konfirmasi; waspadai bukti transfer atau resi yang mencurigakan, dan jika masih ragu, konsultasikan langsung dengan pihak terkait atau ahli untuk memastikan keamanan transaksi.

Untuk perlindungan ekstra, manfaatkan fitur DANA Protection yang menjamin keamanan transaksi dan membantu pengguna terhindar dari risiko penipuan.

3. Penipuan Bermodus Hadiah

Mendapat notifikasi hadiah memang menarik, tapi tidak semuanya asli. 

Penipu kerap mengirim tautan atau pesan palsu yang mengatasnamakan pihak resmi, lalu meminta transfer uang untuk “biaya administrasi” atau “pajak hadiah”. 

Sekali dituruti, mereka akan terus dimintai uang tambahan, padahal hadiahnya sebenarnya tidak ada. 

Ingat: perusahaan resmi tidak akan meminta biaya di muka atau data pribadi yang membahayakan. Jika penipu berhasil mendapatkan data pribadimu, tidak menutup kemungkinan berbagai aplikasimu bisa dibobol. 

Segera laporkan pesan mencurigakan ke kanal resmi, agar pihak terkait bisa menindaklanjuti, sekaligus membatasi ruang gerak penipu.

Kalau masih ragu, langsung kunjungi Posko Bantuan Keliling untuk berkonsultasi dengan tim ahli DANA dan belajar cara mengenali modus berhadiah secara aman.

4. Tawaran Jasa Instan

Tawaran seperti pekerjaan online dengan gaji besar, pinjaman instan, hingga jasa isi ulang yang terlihat praktis, sering dimanfaatkan penipu untuk menyajikan layanan palsu atau ilegal.

Meski tampak profesional, korban bisa kehilangan uang atau data pribadi. 
Hindari jebakan ini dengan memeriksa legalitas dan reputasi penyedia jasa, pastikan untuk menggunakan platform atau mitra resmi dan sah untuk setiap layanan, dan tidak membagikan data pribadi, seperti KTP, selfie, atau nomor rekening, yang rawan disalahgunakan.

Biar belanja lebih aman dan nyaman, pastikan merchant kamu sudah memiliki tanda Verified Merchant.

5. Agen Customer Service Palsu

Penipu yang berpura-pura jadi agen customer service ini biasanya memalsukan kasus, membuatmu merasa perlu segera menanggapi dan bahkan merasa terbantu. 

Di sinilah mereka memanfaatkan momen untuk menurunkan kewaspadaan korban, lalu meminta PIN, OTP, atau informasi sensitif lainnya untuk mengakses akunmu dan melakukan transaksi tanpa izin. 

Untuk menghindari jebakan ini, selalu pastikan kamu hanya berinteraksi melalui kanal resmi perusahaan. Jangan pernah membagikan PIN, OTP, atau data pribadi, meskipun diminta secara mendesak. 

Jika ragu, segera matikan telepon atau sudahi chat, dan hubungi kontak resmi yang tertera di aplikasi atau situs perusahaan.

“Keamanan pengguna adalah prioritas kami. Teknologi yang aman bukan hanya soal sistem yang canggih, tapi juga soal kesadaran masyarakat. Maka dari itu, kami turun langsung ke lapangan lewat Posko Bantuan Keliling, agar setiap orang bisa lebih melek digital dan nyaman bertransaksi. Kami mengajak masyarakat Jawa Barat dan Banten untuk rajin memperbarui aplikasi DANA agar selalu mendapatkan fitur keamanan teranyar,” ujar Norman Sasono, Chief Technology Officer DANA Indonesia.

Sebagian artikel ini diolah dari TribunnewsBogor.com dengan judul Viral Penipuan Lewat QRIS dan Share Screen di WhatsApp, Begini Cara Kerjanya

Sumber: Tribun Bogor
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved