Senin, 18 Mei 2026

Lanskap Ancaman Siber Jabar Selalu Berubah, Fortinet: Adu Kejar-Kejaran dengan Penjahat

Perkembangan ancaman siber di Jawa Barat dinilai semakin kompleks seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Nappisah
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim.  

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Perkembangan ancaman siber di Jawa Barat dinilai semakin kompleks seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, kesehatan, pendidikan hingga pelaku usaha kecil dan menengah. 

Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan ancaman siber tidak mengenal status atau skala. Baik perusahaan besar, UMKM, institusi pemerintah, hingga individu, semuanya berpotensi menjadi target.

Dikatakannya, justru kelompok yang minim pengetahuan soal keamanan digital sering menjadi sasaran empuk.

“Pelaku kejahatan siber itu enggak peduli korbannya siapa, kecil atau besar. Kalau UMKM bisa diserang seratus titik dan masing-masing rugi kecil, itu sudah jadi volume besar buat mereka. Jadi keamanan siber itu kebutuhan semua level,” ujarnya, Jumat (28/11/2025). 

Edwin menuturkan bahwa lanskap keamanan siber tidak pernah berada di titik “puncak” atau stabil. 

Ancaman selalu berkembang, seiring evolusi teknologi, pola kerja, hingga cara manusia beraktivitas di ruang digital.

Menurutnya, dulu sebagian besar orang hanya mengenal antivirus dan firewall sebagai bentuk keamanan digital.

Namun kini, lanjut dia, kebutuhan proteksi sudah jauh lebih kompleks, mencakup perlindungan perangkat mobile, data cloud, remote access, hingga pengamanan infrastruktur kritis.

“Sepuluh tahun lalu Fortinet mungkin hanya punya belasan produk. Sekarang sudah lebih dari 60 produk. Ini bukan soal jualan semata, tapi karena ancaman juga terus berubah. Ini seperti adu kejar-kejaran antara penjahat dan penjaga keamanan,” kata dia.

Dikatakannya, kercepatan digital selama pandemi COVID-19 juga disebut menjadi titik balik peningkatan risiko serangan siber. 

Menurutnya, sistem kerja jarak jauh, layanan digital, hingga transaksi online yang meluas, membuka banyak celah baru.

“Waktu pandemi, semua dipaksa pindah ke online. Masalahnya, tidak semua siap dari sisi keamanan. Banyak yang fokus cepat go digital, tapi lupa proteksi. Itu yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber,” jelas Edwin.

Edwin mengakui Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat, masih menjadi pusat utama aktivitas digital di luar Jabodetabek. 

Oleh karena itu, ancaman paling besar tetap berada di sektor-sektor dengan konsentrasi data tinggi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved