Kamis, 9 April 2026

Konflik Israel vs Iran

Perang Iran Pecah, Harga BBM Naik: Pengamat Unpar Ingatkan Ancaman PHK di Jawa Barat

Perang Iran-Israel picu kenaikan harga BBM per 1 Maret 2026. Pengamat Ekonomi Unpar, Aknolt Kristian, bedah risiko stagflasi.

Penulis: Nappisah | Editor: Ravianto
Tangkapan layar Youtube Al Jazeera
IRAN VS ISRAEL - Tangkap layar video serangan balasan Iran ke Israel. Iran mengatakan telah menembakkan ratusan rudal balistik ke Israel sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir dan para pemimpin militernya, Jumat (13/6/2025). Perang terbaru Iran-Israel picu kenaikan harga BBM per 1 Maret 2026. Pengamat Ekonomi Unpar, Aknolt Kristian, bedah risiko stagflasi, depresiasi Rupiah, hingga strategi diplomasi RI. 

Ringkasan Berita:
  • Krisis Energi: Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia. 
  • Harga BBM Naik: Per 1 Maret 2026, pemerintah resmi menaikkan harga BBM non-subsidi.
  • Risiko Stagflasi: Dunia dibayangi pertumbuhan ekonomi yang stagnan disertai inflasi tinggi akibat kenaikan biaya produksi dan logistik global.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat Ekonomi Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, menyebut perang Amerika Selatan dan Israel kepada Iran yang terjadi saat ini membawa konsekuensi luas. Salah satunya efek domino perekonomian. 

Aknolt menjelaskan, pertama, dampak perekonomian global salah satunya terjadi kenaikan harga energi. 

"Sejak Iran memutuskan menutup Selat Hormuz, praktis jalur pelayaran terutama kapal tanker yang membawa minyak mentah tertutp dan menyebabkan harga mintak dunia akan melonjak dalam waktu dekat," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Minggu (1/3/2026). 

Pemerintah kemudian mengambil langkah untuk menjawab situasi ini, per 1 Maret 2026 harga BBM non-subsisi resmi naik. 

Meski begitu, harga BBM subsidi masih tetap di angka Rp10 ribu. 

Tidak hanya itu, negara-negara yang membutuhkan (importir) energi seperti Jepang, India, dan negara-negara Eropa akanmenghadapi tekanan inflasi tambahan. 

Baca juga: Timur Tengah Memanas! SBMI Desak WNI di Iran Segera Unduh Aplikasi Safe Travel Usai Serangan AS

"Biasanya kenaikan harga BBM akan memperngaruhi biaya produksi dan biaya logistik," ucapnya. 

Aknolt menyoroti dalam konteks yang lebih luas, situasi ini akan menyebabkan risiko stagflasi global, dimana pertumbuhan ekonomi melambat atau bahkan stagnan dan tingkat inflasi naik. 

Kedua, adanya disrupsi rantai pasok dan perdagangan.

Aknolt menilai, situasi di Timur Tengah membuat pelaku industri menghentikan atau mengalihkan jalur aktivitas bisnisnya di wilayah Timur Tengah. 

"Hal ini yang menyebabkan ada biaya tambahan seperti biaya asuransi pengiriman laut dan tarif angkutan laut," imbuhnya. 

Kenaikan biaya ini bukan tanpa alasan. Tambahan jalur atau rute logistik yang tentu membutuhka biaya dan bahan bakar lebih banyak. 

Dikatakan Aknolt, ketegangan geopolitik global mulai menunjukkan dampaknya ke pasar keuangan. 

Efek ketiga, kata dia, para investor kini cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven seperti emas dan dolar Amerika Serikat (US Dollar). 

Menurutnya, pergeseran ini memicu koreksi di pasar saham, termasuk di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved