Kasus Super Flu di Jabar Terdeteksi Sejak Agustus 2025, Tapi Trennya Terus Menurun
Kasus super flu mulai terdeteksi di Jawa Barat sejak Agustus 2025 dan trennya terus menurun hingga akhir tahun.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Influenza H3N2 subclade K, atau super flu, mulai terdeteksi di Jawa Barat sejak Agustus 2025 dan trennya terus menurun hingga akhir tahun
- Sejak ditemukan tercatat hanya ada 10 kasus influenza H3N2 subclade K di Jawa Barat
- Adapun sebaran wilayahnya belum terinci saat ini
- Istilah super flu ini muncul dari masyarakat karena durasi sakit yang tidak biasa dibandingkan flu pada umumnya
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Influenza H3N2 subclade K, atau super flu, mulai terdeteksi di Jawa Barat sejak Agustus 2025 dan trennya terus menurun hingga akhir tahun.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, sejak ditemukan tercatat hanya ada 10 kasus influenza H3N2 subclade K di Jawa Barat.
"Ada 10 kasus sejak Agustus, lalu di Oktober mulai menurun dan sudah ditangani semua. Totalnya 10 kasus hingga akhir tahun," ujar Vini, Senin (12/1/2026).
Adapun sebaran wilayahnya, Vini mengaku belum merinci karena semua kasus tersebut, dilaporkan dan ditangani di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
"Sepuluh kasus itu dilaporkan dari Hasan Sadikin, detail asal wilayahnya tidak diketahui dari mana saja," katanya.
Baca juga: Super Flu Berbeda dengan Covid-19, Dinkes Jabar Minta Masyarakat Tidak Panik
Vini mengatakan istilah super flu ini muncul dari masyarakat karena durasi sakit yang tidak biasa dibandingkan flu pada umumnya.
Menurut Vini, super flu memiliki gejala cenderung lebih berat dan bertahan lama, terutama bagi kelompok rentan. Saat ini di Jabar terdapat 10 kasus ’super flu’.
"Kalau flu biasa gejalanya 3-4 hari atau kurang dari seminggu sudah sehat, ini bisa sampai satu bulan. Tentu kalau menyerang kelompok rentan, gejalanya jadi lebih berat," ucapnya.
Secara klinis, gejala influenza H3N2 subclade K menyerupai flu biasa, namun berisiko berkembang menjadi lebih serius.
"Kalau biasanya hanya demam tinggi, batuk, dan pilek, ini tiba-tiba bisa sesak napas sehingga dinamakan super flu," katanya.
Menurutnya, meski gejalanya berat dan berkepanjangan, influenza jenis ini tidak menyebabkan kematian di Jawa Barat.
"Tidak seperti Covid-19 dulu, tidak ada kematian akibat virus ini," ucapnya.
Baca juga: Polda Jabar Siap Tindak Lanjuti Dugaan Ancamam Pembunuhan Terhadap Thom Haye dan Keluarga
Ketua tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr Yovita Hartantri mengatakan, terdapat 10 pasien yang mengalami gejala 'super flu' dengan rata-rata usia 20-60 tahun, dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun serta usia 11 tahun.
Adapun satu pasien yang meninggal, diketahui memiliki komorbid atau penyakit bawaan dalam kategori berat, sehingga belum dapat dipasitikan apakah orang tersebut meninggal karena 'super flu' atau bukan.
"Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain," ujar dr Yovita Hartantri.
| Dinkes Jabar Evaluasi Manajemen RSHS Soal Bayi Nyaris Tertukar: SOP Ruang NICU Jadi Sorotan |
|
|---|
| Buntut Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung, Dinkes Jabar Akan Evaluasi Mutu Layanan dan SOP Perawat |
|
|---|
| Kasus Campak Meningkat, Dinkes Jabar Instruksikan Laporan Suspek 24 Jam dan Imunisasi Ulang |
|
|---|
| Langkah Cepat Pemprov Jabar Tangani Kasus Campak Melalui Imunisasi Terpadu |
|
|---|
| 1,9 Juta BPJS PBI di Jabar Nonaktif, Belum Sampai 1 Persen yang Direaktivasi, Baru 1.400 Peserta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Kesehatan-Jabar-Vini-Adiani-Dewi144.jpg)