Rabu, 13 Mei 2026

Konflik AS Israel Vs Iran

Cadangan BBM Nasional Tinggal 20 Hari, Pengamat: Situasi Luar Biasa, Harus Sangat Hati-hati

Harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak di atas 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lebih dari beberapa hari.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jabar/Dok Pertamina Patra Niaga RJBB
SPBU DI BEKASI - PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) menginstruksikan SPBU 34.171.46 yang berlokasi di Jalan Insinyur H. Juanda, Bekasi Timur, Kota Bekasi, untuk menghentikan sementara penyaluran BBM jenis Pertalite pada Sabtu malam, 28 Februari 2026. 

Ringkasan Berita:
  1. Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah ke Indonesia dan mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.
  2. Dengan cadangan energi nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari, Indonesia berisiko membeli minyak dengan harga lebih tinggi jika gangguan terjadi, terutama setelah Lebaran saat kebutuhan energi meningkat.
  3. Dampaknya, harga BBM non-subsidi dipastikan naik, sementara BBM subsidi seperti Pertalite akan membebani anggaran pemerintah.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penutupan Selat Hormuz dan terhentinya lalu lintas kapal di kawasan tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap pasokan minyak mentah dan produk energi ke Indonesia.

Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama ekspor minyak di pasar dunia merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak di atas 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lebih dari beberapa hari.

Mengacu pada pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa cadangan energi nasional hanya cukup untuk 20 hari, Yayan menggambarkan skenario yang perlu diwaspadai.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Ancaman di Selat Hormuz Masih Membayang

“Kalau kita gunakan data yang disebutkan Pak Bahlil bahwa kita punya cadangan 20 hari, berarti kalau Selat Hormuz ditutup dan kita tidak beli, lalu kita beli lagi misalnya di hari ke-10, itu harganya mungkin sudah di kisaran lebih dari 100 dolar AS per barel,” ujar Yayan saat dihubungi, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, kondisi ini berpotensi terasa setelah momentum Lebaran. Saat ini kebutuhan energi meningkat karena arus mudik dan aktivitas ekonomi. 

Jika pasokan terganggu dan Indonesia harus membeli kembali dengan harga tinggi, dampaknya akan merembet ke harga BBM domestik.

“Sesudah Lebaran itu harga minyak bisa naik, BBM non-subsidi pasti akan naik. Sementara yang subsidi berarti akan ada beban pemerintah untuk membayar, karena itu penugasan. Pertalite itu sebenarnya mahal, apalagi kalau pasokan minyaknya sedang mahal, beban pemerintah sangat besar,” katanya.

Yayan memperkirakan disrupsi pasokan dari kawasan Timur Tengah bisa mencapai 30 hingga 40 persen. Meski ada kemungkinan substitusi sekitar 20 persen dari Amerika Serikat, kekurangannya tetap signifikan.

“Kalau kita asumsikan ada penggantian dari Amerika Serikat sekitar 20 persen, berarti sisanya bisa 10 sampai 30 persen yang terdampak karena jalur Hormuz, dan  agak repot. Kita harus geser ke pasar lain untuk mengganti pasokan minyak dari negara lain, dan biasanya kita beli lebih mahal,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kesiapan kilang domestik jika harus mengimpor minyak dari Amerika Serikat

Yayan menjelaskan minyak AS berjenis light sweet crude dengan sulfur rendah, sementara kilang Indonesia masih terbatas untuk mengolah jenis tersebut.

“Minyak Amerika itu mirip dengan kita, light sweet crude, low sulfur. Tapi kilang kita belum siap banyak untuk mengolah minyak low sulfur. Jadi tetap ada cost adjustment. Akan ada penyesuaian dan kita sedikit terdisrupsi kalau 20 hari cadangan itu mulai habis,” ujarnya.

Alternatif lain adalah membeli minyak dari Rusia yang relatif lebih murah akibat embargo negara Barat. Namun langkah ini berisiko secara geopolitik.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved