Guru Besar UPI Prof Indra Mamad Gandidi Tawarkan Solusi Sampah Jadi Energi Berbasis IoT
Guru Besar UPI Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi memperkenalkan konsep "Saraf Digital" untuk mengelola sampah menjadi energi.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Persoalan sampah selama ini identik dengan tumpukan limbah, bau menyengat, dan ancaman lingkungan.
Namun, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi menawarkan cara pandang baru dimana sampah bukan lagi masalah, melainkan sumber energi masa depan yang dapat dikelola secara cerdas melalui teknologi digital dan konversi termokimia.
Saat pengukuhan sebagai Guru Besar, Prof Indra memperkenalkan paradigma baru pengelolaan sampah berbasis sistem desentralisasi yang mengintegrasikan teknologi informasi, Internet of Things (IoT), pirolisis, hingga chemical looping conversion.
Menurut Indra, selama ini sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih bertumpu pada pola lama yakni mengangkut dan menimbun sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Padahal, pola tersebut tidak lagi mampu menjawab pertumbuhan volume sampah perkotaan yang terus meningkat.
“Paradigma yang saya tawarkan adalah sebuah lompatan besar dalam cara kita memandang sampah, yaitu mengubah sampah dari masalah lingkungan menjadi komponen dalam ekosistem energi dan sirkular,” ujar Prof Indra, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Jumhur Hidayat Ingin Sampah Pasar Caringin Diolah Menjadi Nilai Tambah Ekonomi
Prof Indra menjelaskan, konsep yang ditawarkannya tidak sekadar membangun teknologi pengolahan sampah, melainkan merancang ulang sistem kota agar lebih cerdas dalam mengelola aliran material dan energi.
Dalam konsep tersebut, kota diibaratkan sebagai organisme hidup. Sementara sistem pengelolaan sampah menjadi “metabolisme” yang menentukan kesehatan kota secara keseluruhan.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya bersifat administratif atau manual, melainkan harus berbasis sistem digital yang mampu bekerja secara otomatis dan prediktif.
Indra menilai teknologi informasi menjadi pondasi utama dalam sistem tersebut.
Melalui sensor IoT, setiap unit pengolahan sampah dapat dipantau secara real-time mulai dari volume sampah, komposisi limbah, hingga kebutuhan energi pengolahan.
“Teknologi ini memungkinkan sistem mengetahui kapan unit pengolahan harus diaktifkan, kapan beban harus didistribusikan ulang, hingga kapan intervensi manusia diperlukan."
"Teknologi informasi bukan sekadar alat digital, tetapi saraf digital yang menghubungkan data, pemrosesan, dan keputusan operasional secara real-time,” katanya.
Konsep TPA desentralisasi yang ia tawarkan juga berbeda dengan sistem konvensional.
Menurutnya, desentralisasi bukan hanya membagi lokasi pengolahan sampah menjadi beberapa wilayah, tetapi membangun jaringan fasilitas pengolahan yang saling terhubung melalui sistem kendali otomatis.
| Potensi Energi Terbarukan di Jabar Bukan hanya Geothermal, Generasi Muda Jadi Motor Perubahan |
|
|---|
| Gas Negara Perkuat Infrastruktur Jargas untuk Dorong Swasembada dan Transisi Energi Bersih |
|
|---|
| Uden Dida Efendi Dorong Pemprov Jabar Manfaatkan Sampah jadi Energi Terbarukan |
|
|---|
| Telkom Tingkatkan Pemanfaatan Energi Terbarukan Perkuat Langkah Menuju Net Zero Emissions |
|
|---|
| Unpar Kirim Dosen ke China Tingkatkan SDM di Sektor Kendaraan Energi Terbarukan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Prof-Dr-Indra-Mamad-Gandidi-upi.jpg)