Daycare Bukan Sekadar Titip Anak: IDAI Tekankan Pentingnya Pengasuhan Utuh dan Nurturing Care
IDAI menekankan bahwa daycare seharusnya dipandang sebagai tempat pengasuhan anak yang memenuhi kebutuhan asuh, asih, dan asah.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- IDAI menekankan bahwa daycare seharusnya dipandang sebagai tempat pengasuhan anak yang memenuhi kebutuhan asuh, asih, dan asah, bukan sekadar tempat penitipan barang.
- Orang tua diimbau selektif memilih lembaga yang memiliki legalitas, pengasuh kompeten, serta fasilitas yang memisahkan anak sehat dan sakit untuk mencegah gangguan perkembangan.
- Meski anak berada di daycare, tanggung jawab utama pemantauan tumbuh kembang tetap berada sepenuhnya di tangan orang tua.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Cara pandang orang tua terhadap daycare dinilai masih keliru. Anak bukan sekadar “dititipkan”, melainkan harus diasuh secara utuh demi memastikan tumbuh kembangnya tetap optimal.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, DR Dr Fitri Hartanto, SpA, Subsp TKPS(K), menyoroti kesalahan mendasar dalam pemahaman masyarakat terhadap daycare.
Selama ini, banyak orang tua menganggap daycare sebagai tempat penitipan anak. Padahal, menurutnya, konsep tersebut tidak tepat.
“Anak bukan barang yang dititipkan, daycare itu seharusnya tempat pengasuhan anak,” kata dr Fitri saat wawancara virtual, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, dalam regulasi pendidikan, daycare sebenarnya termasuk dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berfungsi mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Dokter Fitri menekankan bahwa pengasuhan anak tidak bisa dipahami secara sederhana. Ada tiga konsep utama yang harus dipenuhi, yaitu asuh (kebutuhan fisik), asih (kasih sayang), dan asah (stimulasi perkembangan).
Konsep ini juga dikenal secara global sebagai nurturing care, yang didukung oleh organisasi seperti WHO dan UNICEF.
“Anak harus mendapatkan nutrisi, kesehatan, kasih sayang, interaksi, dan stimulasi. Kalau salah satu tidak terpenuhi, perkembangan anak bisa terganggu,” jelasnya.
Meski anak diasuh di daycare, tanggung jawab utama tetap berada di tangan orang tua. Daycare hanya berfungsi sebagai pendukung ketika orang tua memiliki keterbatasan waktu atau kondisi.
Dalam pendekatan bio-ekologis, daycare berada pada lingkungan “meso”, yaitu lingkungan pendukung di luar keluarga inti.
“Orang tua tetap harus memonitor, tidak bisa lepas begitu saja,” ujarnya.
Dalam memilih daycare, orang tua harus memperhatikan berbagai aspek penting, mulai dari keamanan, kompetensi pengasuh, hingga legalitas lembaga.
Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain, sertifikasi tenaga pengasuh, keamanan lingkungan dan fasilitas, ketersediaan CCTV yang bisa diakses orang tua, SOP penanganan darurat, dan legalitas lembaga.
“Orang tua juga disarankan untuk melihat langsung interaksi antara pengasuh dan anak. Kalau tidak boleh melihat, itu harus jadi pertanyaan besar,” katanya.
| Kekerasan di Daycare, Dokter Ungkap Tanda Trauma hingga Dampak Serius pada Anak |
|
|---|
| Cegah Kekerasan Anak, Wali Kota Bandung Siapkan Perwal untuk Standarisasi 600 Daycare |
|
|---|
| Buntut Kasus Little Arestha, Pemkot Bandung Perketat Izin: Daycare Wajib Punya Layanan Psikolog |
|
|---|
| Mengapa Kanker Ginjal pada Anak Tak Terkait Pola Makan? Simak Penjelasan Medis Terkait Maturasi Sel |
|
|---|
| Kisah Perjuangan Dokter Anak di Dataran Tinggi Gayo: Menembus Medan Ekstrem demi Jangkau Pengungsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Lokasi-Daycare-di-Sorosutan-Umbulharjo-Kota-Yogyakarta-jadi-per.jpg)