Minggu, 3 Mei 2026

Kekerasan di Daycare, Dokter Ungkap Tanda Trauma hingga Dampak Serius pada Anak

Dampak trauma pada anak akibat kekerasan dapat terlihat jelas, meskipun seringkali tidak disadari oleh orang tua.

Tayang:
Tribun Jogja/Miftahul Huda
KEKERASAN PADA BAYI - Daycare Little Aresha di daerah Umbulharjo Kota Yogyakarta digerebek polisi terkait dugaan kekerasan terhadap anak, Jumat (24/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kasus kekerasan terhadap anak di daycare kembali disorot, termasuk praktik mengikat dan membungkam anak.
  • DR dr Fitri Hartanto, SpA menegaskan bayi dan balita dalam masa golden period sangat rentan trauma akibat kekerasan.
  • Trauma bisa berdampak psikologis hingga fisik, bahkan berpotensi berkembang menjadi gangguan pascatrauma jika tidak ditangani.
  • Pendekatan pemulihan harus fokus pada lingkungan aman, penuh kasih sayang, serta memperbanyak pengalaman positif.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus kekerasan pada anak di tempat pengasuhan kembali menjadi sorotan, terutama praktik tidak manusiawi seperti mengikat dan membungkam anak. 

Tindakan tersebut dinilai memiliki dampak serius, baik secara fisik maupun psikologis, khususnya pada bayi dan balita yang masih berada dalam masa emas perkembangan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, DR Dr Fitri Hartanto, SpA, Subsp TKPS(K), menegaskan bahwa dampak trauma pada anak akibat kekerasan dapat terlihat jelas, meskipun seringkali tidak disadari oleh orang tua.

Baca juga: Cegah Kekerasan Anak, Wali Kota Bandung Siapkan Perwal untuk Standarisasi 600 Daycare

“Jelas sekali ada tanda trauma, dalam  beberapa kasus, anak menjadi takut, ketika ditanya hanya menjawab ‘tidak tahu, tidak tahu’. Itu bentuk dari trauma,” ujar dr Fitri saat wawancara virtual, Jumat (1/5/2026).

Menurut dokter Fitri, bayi dan balita berada dalam fase golden period, di mana perkembangan otak berlangsung sangat cepat dan sensitif terhadap berbagai stimulasi.

Namun, ketika anak justru menerima stimulasi negatif seperti kekerasan, rasa takut, atau ancaman, pengalaman tersebut akan tersimpan kuat dalam memori.

“Apa yang dia lihat, yang menakutkan itu menjadi rangsangan, tapi itu rangsangan negatif dan ketika itu tersimpan dalam memori, akan sulit hilang,” jelasnya.

Trauma yang tidak ditangani dengan baik bahkan berpotensi berkembang menjadi gangguan pascatrauma atau post-traumatic stress (PTS).

“Kalau kita lalai dalam pendampingan, itu bisa berlanjut menjadi trauma yang menetap,” tambahnya.

Selain dampak psikologis, kekerasan fisik seperti pengikatan juga dapat menimbulkan gangguan nyata pada tubuh anak.

Fitri menjelaskan, perubahan kemampuan fisik yang tiba-tiba harus menjadi tanda kewaspadaan bagi orang tua.

“Yang tadinya bisa jalan, kok jadi pincang. Yang tadinya tangannya normal, kok ada gangguan saat mengambil sesuatu. Ini harus dicurigai,” katanya.

Baca juga: Buntut Kasus Little Arestha, Pemkot Bandung Perketat Izin: Daycare Wajib Punya Layanan Psikolog

Cedera akibat kekerasan bisa berdampak pada sistem otot, saraf, hingga perkembangan motorik anak jika tidak segera ditangani.

Dalam proses pemulihan, Fitri menekankan bahwa anak korban kekerasan tidak boleh dipaksa untuk menceritakan ulang kejadian yang dialaminya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved