Senin, 8 Juni 2026

Dari Limbah Jadi Cuan, Minyak Jelantah Kini Bernilai Ekonomi: Rp 5.500 per Liter

UCollect by Noovoleum menghadirkan inovasi pengumpulan minyak jelantah berbasis teknologi yang memberikan nilai ekonomi.

Tayang:
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
UCollect Box yang bisa digunakan untuk membuang jelantah bagi warga di Taman Sari, Kota Bandung. 

Ringkasan Berita:
  • UCollect by Noovoleum menghadirkan inovasi pengumpulan minyak jelantah berbasis teknologi yang memberikan nilai ekonomi langsung sebesar Rp5.500 per liter bagi masyarakat. 
  • Melalui UCollect Box yang tersedia di titik seperti Moxy Hotel Bandung, limbah dapur diolah menjadi biodiesel bersertifikasi internasional untuk mencegah daur ulang minyak goreng ilegal. 
  • Program ini berhasil mengumpulkan hingga 70 ton jelantah per bulan sekaligus mengedukasi warga tentang kelestarian lingkungan.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah dapur, ternyata bisa menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus energi berkelanjutan.

Melalui inovasi pengumpulan berbasis teknologi, masyarakat kini tak hanya bisa membuang jelantah dengan benar, tetapi juga mendapatkan penghasilan tambahan.

Business Development Manager UCollect by Noovoleum, Tharesa Rahma Primula, menjelaskan bahwa layanan ini hadir untuk menjawab dua persoalan sekaligus lingkungan dan ekonomi masyarakat. 

“Simpelnya, UCollect itu program pengumpulan minyak jelantah dengan berbagai skema. Tujuan awalnya untuk mempermudah masyarakat melakukan langkah sustainability, bahkan dari rumah,” ujar Tharesa saat ditemui di Moxy Hotel, Jalan Dago, Rabu (22/4/2026).

Salah satu implementasinya adalah penyediaan UCollect Boxes, tempat pengumpulan minyak jelantah yang kini sudah tersedia di sejumlah titik, termasuk di Moxy Hotel Bandung.

Melalui fasilitas ini, masyarakat cukup membawa minyak jelantah dari rumah, melakukan pemindaian melalui aplikasi, lalu langsung mendapatkan saldo sebagai imbalan.

Menurut Tharesa, pendekatan ini menjadi pembeda dibanding program serupa yang selama ini lebih bersifat donasi. 

“Selama ini memang sudah banyak gerakan pengumpulan jelantah, misalnya dari RT atau bank sampah. Tapi kebanyakan tidak memberikan nilai ekonomi langsung. Di sini, masyarakat bisa dapat tambahan penghasilan,” katanya.

Harga yang ditawarkan pun dibuat transparan dengan sistem satu harga, yakni Rp5.500 per liter, baik untuk masyarakat umum maupun pelaku usaha seperti hotel, restoran, dan kafe (Horeca). 

Bahkan, tersedia skema bonus berdasarkan jumlah setoran. 

“Misalnya 25 liter dapat bonus 2,5 persen, 50 liter 5 persen, 100 liter 10 persen, dan di atas 250 liter bisa sampai 20 persen. Jadi cukup menarik, terutama untuk pelaku usaha,” jelasnya.

Tak hanya soal cuan, pengolahan minyak jelantah ini juga menyasar isu kesehatan dan kehalalan. Tharesa menyoroti praktik yang masih sering terjadi di lapangan, yakni daur ulang jelantah menjadi minyak goreng curah.

“Itu berbahaya dari sisi kesehatan. Belum lagi kalau bicara halal, kita tidak tahu asal minyaknya dari mana saja. Kalau dicampur dan dijual lagi, itu jadi tanda tanya,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Novoleum mengolah minyak jelantah menjadi bahan baku biodiesel dan bioakselerator, sehingga tidak kembali ke rantai konsumsi makanan. Proses ini juga telah mengantongi berbagai sertifikasi, termasuk ISCC, ISO, serta standar CE dan SNI, yang menjamin keamanan dan keterlacakan prosesnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved