Perubahan Sistem Cepat, Perguruan Tinggi Kini Dituntut Lebih Agile dan Adaptif
Di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, peran tenaga kependidikan kini tidak lagi sebatas administratif.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan pentingnya peran tenaga kependidikan dalam transformasi pendidikan tinggi.
- Tenaga kependidikan tidak lagi sebatas administratif, tetapi menjadi penggerak perbaikan sistem kampus.
- Workshop diikuti 385 peserta lintas bidang, menunjukkan transformasi harus menyeluruh.
- Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan menilai analis kebijakan penting untuk menghasilkan keputusan berbasis data.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ( Mendiktisaintek ),
Brian Yuliarto menegaskan pentingnya peran tenaga kependidikan dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di tengah tantangan disrupsi global dan percepatan perubahan sistem.
Menurut Brian, transformasi pendidikan tinggi tidak akan pernah benar-benar terjadi tanpa peran kelompok ini.
“Seringkali perhatian kita langsung tertuju pada dosen, riset, atau mahasiswa. Padahal ada satu elemen yang sangat krusial namun tidak tampak di permukaan, yaitu tenaga kependidikan,” ujar Brian di dalam Workshop dan Benchmarking Peningkatan Kompetensi Analis Kebijakan di Lingkungan Perguruan Tinggi di Hotel Aryaduta, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Ojol Kini Bebas Masuk Kampus Unpad Jatinangor Tanpa Scan QR Code, Ini Aturan Barunya
Menurutnya, di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, peran tenaga kependidikan kini tidak lagi sebatas administratif.
Mereka justru menjadi lokomotif dalam mendorong perbaikan sistem di berbagai lini kampus.
“Tenaga kependidikan hari ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi administrasi. Mereka menjadi penggerak perbaikan sistem,” tegasnya.
Workshop tersebut diikuti oleh 385 peserta yang berasal dari berbagai bidang, mulai dari pranata laboratorium pendidikan, humas, SDM, pustakawan, analis kebijakan, arsiparis, hingga pranata komputer.
Kehadiran lintas sektor ini, kata Brian, menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh.
Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari seluruh upaya ini bukan sekadar memperbaiki administrasi, melainkan memastikan pendidikan tinggi benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Untuk itu, dibutuhkan sistem yang kuat, layanan yang responsif, serta sumber daya manusia yang adaptif dan terus belajar.
Baca juga: Lindungi Karya Inovator Muda, Kemenkum Jabar dan Disparbud Edukasi HKI di Kampus BINUS Bandung
Brian berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seremoni semata. Ia mendorong adanya keberlanjutan melalui forum-forum kolaboratif di masing-masing kampus, termasuk ruang dialog antara pimpinan perguruan tinggi dan tenaga kependidikan.
Sementara itu Rektor Universitas Padjadjaran, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menilai kegiatan ini menjadi langkah penting di tengah kompleksitas tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini.
Ia menyebut, di tengah disrupsi teknologi dan perubahan global yang cepat, kampus membutuhkan penguatan peran analis kebijakan yang mampu menghasilkan keputusan berbasis data.
“Kami menyambut baik kegiatan ini di tengah disrupsi teknologi dan berbagai perubahan yang terjadi, perguruan tinggi membutuhkan analis kebijakan yang bisa memastikan kebijakan universitas berbasis evidence,” ujar Arief.
Menurut Arief, keberadaan analis kebijakan akan mendorong perguruan tinggi bergerak bersama dalam memperbaiki manajemen birokrasi serta menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Kalau perguruan tinggi bisa bergerak bersama, akan tercipta sinergi dan perubahan yang pada akhirnya bisa menghela pembangunan nasional,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga dinamika global yang terus berubah.
Kondisi tersebut, kata dia, menuntut kampus untuk lebih lincah dan responsif dalam mengambil kebijakan.
“Perubahan geopolitik global, misalnya krisis energi akibat konflik di Timur Tengah, menuntut kita mengambil kebijakan secara cepat dan terukur. Kalau tidak berbasis data dan analisis yang kuat, dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.
Baca juga: Kampus Swasta di Bandung Bisa Jadi Pilihan Alternatif Camaba, Biaya Tetap hingga Refund 100 Persen
Ia pun menegaskan pentingnya penguatan kapasitas internal kampus, termasuk dalam hal analisis kebijakan.
“Kampus harus agile, harus adaptif terhadap perubahan, baik internal maupun eksternal dan itu membutuhkan analisis yang sangat kuat,” ucapnya.
Mendiktisaintek
Brian Yuliarto
pendidikan tinggi
Universitas Padjadjaran
Arief Sjamsulaksan Kartasasmita
| Buka Banyak Jalur Penerimaan, Unpad Pastikan Kuliah Tetap Terjangkau di SMUP Mandiri 2026 |
|
|---|
| Buntut Selat Hormuz Ditutup: Minyak Naik, Dolar Menguat, Pengamat Sebut Indonesia Bisa Rugi 2 Kali |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Tinggal 20 Hari, Pengamat: Situasi Luar Biasa, Harus Sangat Hati-hati |
|
|---|
| bank bjb & Universitas Indonesia Perluas Kolaborasi Dukung Transformasi Layanan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Mendiktisaintek Siapkan Pendanaan Riset Hilirisasi demi Kejar Target Ekonomi 8 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Padjadjaran-Arief-Sjamsulaksan-74.jpg)