Kamis, 23 April 2026

Target 3 Juta Rumah Terancam Mandek Imbas Harga Material Melonjak, REI Jabar Ingatkan Efek Domino

Lonjakan harga material bahan bangunan, terutama besi dan semen, imbas tekanan geopolitik berpotensi memicu efek domino

Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Istimewa
Ilustrasi perumahan - Lonjakan harga material bahan bangunan, terutama besi dan semen, imbas tekanan geopolitik berpotensi memicu efek domino bagi para pengembang perumahan (developer). 

Ringkasan Berita:
  • Harga material melonjak: Besi, semen, pasir, dan batu naik 30–50 persen akibat geopolitik dan moratorium galian C.
  • Pengembang menunda proyek: Banyak developer memilih “wait and see” hingga harga stabil, berpotensi mandeknya program Tiga Juta Rumah.
  • Harga rumah subsidi tidak realistis: Acuan Rp166–185 juta dinilai tidak sesuai dengan kenaikan biaya material.
  • Birokrasi perizinan lambat: Proses OSS hingga PBG bisa memakan waktu minimal satu tahun.

 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ambisi pemerintah untuk merealisasikan program strategis nasional Tiga Juta Rumah terancam mandek. 

Lonjakan harga material bahan bangunan, terutama besi dan semen, imbas tekanan geopolitik berpotensi memicu efek domino bagi para pengembang perumahan (developer). 

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Norman Nurdjaman, mengatakan, bahwa tanpa langkah konkret dan tegas dari pemerintah, program tersebut akan sulit tercapai. 

Baca juga: Upaya Pemprov Jateng Dukung Program Tiga Juta Rumah

Menurutnya, saat ini para pengusaha properti tengah dihadapkan pada dilema besar di sektor supply (pasokan).

"Ada efek domino ke pengusaha dari kenaikan besi dan semen ini. Banyak yang mungkin sementara akan stop, tunggu dulu (wait and see). Tanah kan bisa dibiarkan, enggak usah dijual dulu, menunggu sampai ada perbaikan harga mungkin di tahun 2027. Jelas ini sangat berpengaruh ke program tiga juta rumah," ungkap Norman, kepada Tribunjabar.id, Senin (6/4/2026) malam. 

Norman menuturkan, kebijakan pemerintah yang dirasa belum sejalan dengan besarnya target yang dicanangkan. 

Ia menyebut, program yang luar biasa seharusnya didukung oleh kebijakan lintas sektoral yang juga luar biasa, bukan sekadar kebijakan business as usual.

Kondisi di lapangan, kata Norman, jauh dari kata ideal bagi para pengembang. Selain besi dan semen, material alam juga menjadi momok imbas geopolitk. 

Adanya moratorium pertambangan galian C di Jawa Barat membuat harga material dasar seperti pasir dan batu melonjak drastis. 

"Kenaikannya tak main-main, berkisar antara 30 hingga 50 persen," imbuhnya. 

Padahal, kata dia, pasokan material dari Jawa Barat ini juga menopang pembangunan di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Banten.

"Pemerintah, khususnya kementerian terkait, memang rajin sosialisasi soal kredit bagi pengembang. Tapi itu percuma kalau hanya dipikirkan dari satu sisi. Aspek makronya tidak diperhitungkan." 

"Kalau harga material naik tajam, pemerintah juga harus menyesuaikan harga acuan Rumah Sejahtera Tapak (rumah subsidi) yang saat ini dipatok di kisaran Rp166 juta hingga Rp185 juta untuk wilayah Jawa Barat. Harus logis," jelasnya. 

Baca juga: Menteri PU Wanti-wanti Harga Besi dan Semen Melonjak: Sinyal Kenaikan Harga Material Makin Nyata

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved