Jumat, 24 April 2026

Haru Biru Selimuti Pedang Pora di Mapolrestabes Bandung, Lepas Kombes Budi Sartono Menuju Babak Baru

Kesedihan para anggota terlihat dalam upacara Pedang Pora melepas Kombes Budi Sartono di Mapolrestabes Bandung.

|
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
DIGENDONG - Kombes Budi Sartono digendong oleh anggota saat meninggalkan Mapolrestabes Bandung, Rabu (25/2/2026) sore. Budi Sartono resmi lepas jabatan Kapolrestabes Bandung. 

Ringkasan Berita:
  • Lewat tradisi Pedang Pora, Kombes Budi Sartono resmi lepas jabatan Kapolrestabes Bandung
  • Tiga tahun kurang satu bulan, Budi Sartono menjadi simbol wajah keamanan Kota Kembang
  • Budi mengenang masa-masa sulit saat harus mengawal demonstrasi hingga dini hari, bahkan pernah melewati waktu berbuka puasa di tengah jalan demi memastikan warga Bandung tidur dengan nyenyak
  • Kini Budi siap dilantik menjadi Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang di BNN RI 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Udara di halaman Mapolrestabes Bandung, terasa lebih berat dari biasanya, Rabu (25/2/2026) sore.

Bukan karena polusi kendaraan yang hilir mudik di Jalan Jawa, melainkan karena gumpalan emosi yang menyesak di dada ratusan personel kepolisian yang berbaris rapi.

Di ujung barisan, Kapolrestabes Bandung, Kombes Budi Sartono, melangkah perlahan didampingi sang istri.

Langkah mereka tak lagi sigap seperti saat memimpin apel pengamanan, melainkan langkah perpisahan sebagai nahkoda Polrestabes Bandung.

Saat Azan Asar baru selesai berkumandang, suasana khidmat pecah oleh denting melodi lagu 'Tak Kan Hilang' milik Budi Doremi yang sengaja diputar dan menyusup di antara celah barisan perwira, bintara, hingga ASN.

Baca juga: Nekat Jual Minol Saat Ramadhan, Satpol PP Kota Bandung Segel Dua Kios dan Sita Ratusan Botol

Liriknya seolah bicara mewakili perasaan kolektif di lapangan itu, tentang pengabdian yang membekas dan jejak yang tak akan terhapus waktu.

Satu per satu personel disalami Budi dan istri. Tak ada sekat antara komandan dan bawahan saat itu.

Beberapa anggota terlihat menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris tumpah.

Bagi mereka, sosok Budi bukan sekedar atasan yang memberikan perintah, tapi rekan seperjuangan yang sering bertugas hingga subuh saat Kota Bandung sedang tidak baik-baik saja.

Puncak emosi pecah saat tradisi Pedang Pora dimulai.

Di bawah lengkungan pedang yang berkilat, Budi dan istri berjalan melewati lorong kehormatan. Tradisi ini bukan sekedar seremoni militeristik, melainkan simbol pelepasan ksatria menuju medan laga yang baru. 

Tiga tahun kurang satu bulan, Budi Sartono menjadi simbol wajah keamanan Kota Kembang. 

Dia mengenang masa-masa sulit saat harus mengawal demonstrasi hingga dini hari, bahkan pernah melewati waktu berbuka puasa di tengah jalan demi memastikan warga Bandung tidur dengan nyenyak.

Baca juga: Nina Agustina Gabung PSI, Ketua DPD Akui Sudah Terima Informasi Sejak Tiga Pekan Lalu

"Tak mungkin saya bisa di sini dan melanjutkan karir ke depan jika tak ada kerjasama dari rekan semua," ucap Budi dengan nada suara yang sedikit bergetar namun tetap berwibawa.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved