Dinas Pendidikan Respons Cepat Kasus Perundungan di SMP Negeri 40 Bandung, Beri Pendampingan
Dinas Pendidikan Kota Bandung sudah sudah melakukan asesmen terhadap siswa SMP Negeri 40 yang menjadi korban perundungan.
Penulis: Nappisah | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Kasus perundungan menimpa seorang siswa di SMP Negeri 40 Bandung
- Korban kini mengalami trauma hingga menolak untuk kembali bersekolah
- Disdik Kota Bandung sudah melakukan asesmen terhadap siswa yang bersangkutan.
- Berdasarkan hasil pemeriksaan, tim medis menyarankan agar siswa tersebut mendapatkan pendidikan di sekolah berkebutuhan khusus
- Namun di tingkat SMP belum ada tenaga pengajar khusus untuk menangani anak berkebutuhan khusus
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID - Kasus perundungan (bullying) yang menimpa seorang siswa di SMPN 40 Bandung mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Bandung.
Dikutip dalam postingan Instagram, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, korban kini mengalami trauma hingga menolak untuk kembali bersekolah.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan pihaknya sudah melakukan asesmen terhadap siswa yang bersangkutan.
Asesmen adalah proses sistematis untuk mengumpulkan dan mengolah informasi tentang individu atau situasi guna memahami kebutuhan belajar, perkembangan, atau kinerja, yang hasilnya digunakan untuk pengambilan keputusan, perbaikan pembelajaran, pengembangan diri, atau peningkatan mutu pendidikan dan organisasi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tim medis menyarankan agar siswa tersebut mendapatkan pendidikan di sekolah berkebutuhan khusus.
Asep membeberkan, korban merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang semuanya memiliki kebutuhan khusus.
Baca juga: Trauma Akibat Perundungan, Siswa SMP Negeri 40 Bandung Berhenti Sekolah
Namun, berbeda dengan dua kakaknya yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), anak ini dimasukkan ke sekolah umum di SMP Negeri 40.
"Hasil asesmen tenaga psikolog merekomendasikan anak itu dipindah ke sekolah berkebutuhan khusus. Karena memang di tingkat SMP kami belum memiliki tenaga pengajar khusus untuk menangani anak berkebutuhan khusus," ujar Asep, Selasa (20/1/2026).
Asep menjelaskan bahwa korban, yang saat ini duduk di kelas 7, memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi.
Kondisi ini diduga menjadi awal mula terjadinya perundungan di sekolah sekitar tiga bulan yang lalu.
"Anak itu kalau mengobrol agak terbata-bata, komunikasinya susah. Mungkin saat berinteraksi, teman-temannya bercanda (hereuy), lalu anak ini merasa tersinggung. Dari sana muncul masalah tersebut," jelasnya.
Pihaknya juga mengakui adanya tantangan besar di sekolah-sekolah negeri, baik SD maupun SMP di Bandung, terkait keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keahlian khusus dalam menangani siswa inklusi atau ABK.
Menanggapi isu yang beredar di media sosial, Asep menegaskan bahwa pihak sekolah dan Disdik tidak lepas tangan.
Hingga saat ini, pihak kepala sekolah masih berupaya menjalin komunikasi intensif dengan orang tua siswa untuk mencari solusi terbaik.
Baca juga: SOSOK Layvin Kurzawa Eks PSG dan Timnas Prancis, Dikabarkan Merapat ke Persib
| 6 Lokasi Kantong Parkir saat Kirab Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung Malam Ini |
|
|---|
| Rute Pawai Milangkala Tatar Sunda di Bandung: Cek Titik Start Kiara Artha hingga Gedung Sate |
|
|---|
| Kiara Artha Park Hingga Gedung Sate Akan Dipadati Ribuan Orang, DLH Bandung Fokus Sapu Sampah |
|
|---|
| SOKSI Pilih Bandung untuk Rapimnas-Rakernas, Misbakhun: Jabar Jadi Kunci Penguatan Politik Golkar |
|
|---|
| Farhan Antisipasi Kemacetan dan Tumpukan Sampah di Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Bandung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/aksi-perundungan-atau-bullying-terhadap-siswa-SMP-di-Gowa.jpg)