Selasa, 2 Juni 2026

Natal dan Tahun Baru 2026

Natal Bukan Sekadar Perayaan, Ini Pesan Kesederhanaan dari Pembimas Katolik Jabar

Menyambut Natal, umat Katolik tidak hanya memaknainya sebagai perayaan iman semata, tetapi juga sebagai momentum refleksi

Tayang: | Diperbarui:
Istimewa/Tangkapan Layar
WAWANCARA - Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Gracia Setia Widiasrini di Studio Tribun Jabar 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menyambut Natal, umat Katolik tidak hanya memaknainya sebagai perayaan iman semata, tetapi juga sebagai momentum refleksi, kesederhanaan dan kepedulian sosial. 

Hal ini disampaikan Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Gracia Setia Widiasrini, saat berbagi cerita tentang pengalaman menyambut Natal dalam masa Adven.

Gracia menjelaskan, dalam tradisi Katolik, masa menjelang Natal diawali dengan masa Adven, yaitu periode persiapan rohani yang berlangsung selama empat pekan. 

Baca juga: 503 Warga Binaan di Jabar Remisi Hari Raya Natal 2025, 1 Anak Dapat Pengurangan Masa Pidana

Pada masa ini, umat Katolik memiliki tradisi lingkaran Adven dengan empat lilin yang dinyalakan secara bertahap setiap minggunya.

“Setiap lilin Adven memiliki makna dan dinyalakan satu per satu. Saat lilin pertama dinyalakan, kami biasanya mengawali dengan doa-doa khusus. Tradisi ini dilakukan secara berkelanjutan hingga lilin keempat,” ujar Gracia di Studio Tribun Jabar, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, tradisi Adven ini kerap dijalani dalam lingkup keluarga melalui doa bersama. 

Selain dalam perayaan misa di gereja, kebersamaan keluarga saat doa Adven menjadi bagian penting dalam mempersiapkan hati menyambut kelahiran Yesus Kristus.

“Di dalam keluarga, kami melakukan doa bersama setiap menyalakan lilin Adven. Setelah lilin keempat, barulah kami memasuki perayaan Misa Malam Natal pada 24 Desember, dilanjutkan perayaan Natal pada 25 Desember,” jelasnya.

Lebih jauh, Gracia menekankan bahwa makna Natal tidak selalu identik dengan suasana sukacita yang sempurna. 

Natal, katanya, tetap dapat dimaknai secara mendalam meskipun dirayakan dalam kondisi duka atau situasi batin yang tidak nyaman.

“Yesus sendiri hadir ke dunia dengan lahir di kandang, dalam kesederhanaan. Itu menjadi teladan bahwa Natal bukan soal kemewahan, tetapi tentang empati, bela rasa, dan kehadiran Allah di tengah keterbatasan manusia,” tuturnya.

Ia pun melihat kondisi sejumlah saudara sebangsa yang tengah mengalami bencana alam, seperti banjir di beberapa wilayah Sumatera. 

Baca juga: Jadwal Persib Bandung VS PSM Makassar Mepet Natal, Kans Kudeta Borneo FC di Puncak Klasemen

Menurut Gracia, situasi tersebut seharusnya menjadi panggilan bagi umat Katolik untuk memaknai Natal sebagai momentum kepedulian sosial.

“Perayaan Natal jangan hanya berhenti pada euforia, pesta, atau kesenangan. Justru kesederhanaan dan kepedulian kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan itulah pesan utama Natal,” katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved