Angklung Hidup, Bambu Lestari: Udjo Ecoland Resmikan 'Angklung Living Museum'
Perayaan di Udjo Ecoland, menjadi babak baru dalam melestarikan angklung tak hanya secara simbolis.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lima belas tahun setelah angklung dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, gema bambu itu kembali menjadi pusat perhatian di Udjo Ecoland pada Minggu (30/11/2025).
Sejak dipatenkan sebagai warisan dunia pada 2010, angklung telah menjadi duta budaya yang menghubungkan Indonesia dengan panggung internasional.
Kendati demikian, di balik pencapaian itu, terdapat tantangan besar bagaimana memastikan seni bambu ini tetap dipahami, dimainkan, dan diwariskan oleh generasi muda.
Perayaan di Udjo Ecoland, menjadi babak baru dalam melestarikan angklung tak hanya secara simbolis.
Di tempat ini, berdiri bangunan dari bambu. Di lahan seluas 3,9 Ha, suasana khas perayaan budaya Sunda yang hangat dan inklusif.
Pada momentum tersebut, puluhan emak-emak turut memeriahkan panggung dengan penampilan penuh semangat membawakan lagu “Manuk Dadali.”
Dengan angklung di tangan, harmoni bambu yang bergetar serempak berpadu dengan vokal yang lantang, menjadikan lagu kebanggaan Jawa Barat itu terasa lebih hidup.
Usai penampilan tersebut, panggung berlanjut dengan musikalisasi Nusantara yang dibawakan oleh anak-anak dan remaja yang menghadirkan medley lagu-lagu daerah dari berbagai penjuru Indonesia.
Aransemen modern yang dibalut teknik permainan angklung membuat “Bhineka Tunggal Ika” terasa nyata dalam bentuk musikal.
Para penari yang membawakan tari Bali tampil anggun dengan kebaya berhias payet. Rambut mereka disanggul tinggi dan dihias gelungan lengkap dengan bunga kamboja serta ornamen emas khas Bali.
Riasan mata yang tegas, garis alis yang melengkung tebal, dan lipstik merah menyala memperkuat karakter gerak yang halus namun penuh energi.
Sementara itu, penari yang menampilkan tarian dari kawasan Timur Indonesia mengenakan kain tenun dengan warna-warna coklat. Aksesori manik-manik berukuran besar menghiasi leher dan dada, sementara hiasan kepala dari bulu atau serat alam mempertegas identitas budaya setempat.
Di balik panggung utama, terdapat juga Pasar Rakyat yang akan menampilkan ragam kuliner lokal, produk kerajinan, hingga karya komunitas kreatif.
Area ini dirancang sebagai ruang interaksi santai tempat pengunjung.
Tidak kalah menarik, Kaulinan Budak Lembur turut menjadi magnet tersendiri dalam rangkaian kegiatan.
| Resmikan RS Rajawali, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Tegaskan RS Tak Boleh Tolak Pasien Apa Pun |
|
|---|
| Rawan Banjir dan Pohon Tumbang, Tiga Sekolah di Kota Bandung Melaksanakan PJJ |
|
|---|
| Soroti Lagu 'Erika' HMT-ITB, Pengamat Singgung Paham Permisivisme di Lingkungan Kampus |
|
|---|
| Mobil Mewah Toyota Noah Penyok Tertimpa Pohon Tumbang di Jalan Badak Singa Bandung |
|
|---|
| Banjir di Derwati Bandung Berdampak Luas, Puluhan Rumah Warga di Dua RT Terendam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Lima-belas-tahun-setelah-angklung-dikukuhkan-se.jpg)