Lagu Pelecehan di ITB
Soroti Lagu 'Erika' HMT-ITB, Pengamat Singgung Paham Permisivisme di Lingkungan Kampus
Guru Besar Hukum UPI, Prof. Cecep Darmawan, menyoroti viralnya lagu "Erika" oleh HMT-ITB sebagai fenomena yang memprihatinkan bagi dunia akademik.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Guru Besar Hukum UPI, Prof. Cecep Darmawan, menyoroti viralnya lagu "Erika" oleh HMT-ITB sebagai fenomena yang memprihatinkan bagi dunia akademik.
- Selain perlunya kajian hukum mengenai unsur pidana, Prof. Cecep menekankan pelanggaran etika serius oleh mahasiswa yang seharusnya menjadi teladan masyarakat.
- Ia juga mengingatkan para dosen agar tidak sekadar mengajar materi, tetapi berperan aktif sebagai pendidik karakter guna membendung paham permisivisme yang masuk ke lingkungan kampus.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Guru Besar Prodi Hukum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan menanggapi terkait viralnya lagu dan aksi joged yang tak pantas dari Himpunan Mahasiswa Tambang ITB berjudul 'Erika'.
Prof Cecep menilai, pandangan hukum untuk kasus ini perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut apakah masuk unsur pidana (hukum) atau tidak.
Cecep menilai dari aspek etika atau kode etik, hal ini tidak pantas dilakukan, terlebih oleh mahasiswa yang berpendidikan tinggi.
"Jika itu benar, ya tak patut seperti itu, apalagi oleh mahasiswa yang seharusnya menjadi model bagi masyarakat. Kalau aspek hukumnya, perlu dikaji mendalam apakah memang masuk unsur pidana atau tidak," katanya saat dihubungi, Rabu (15/4/2026)
Baca juga: Soroti Lagu Erika HMT-ITB, Pengamat Singgung Paham Permisivisme di Lingkungan Kampus
Dia pun merasa miris terhadap fenomena para mahasiswa yang saat ini ramai diperbincangkan, setelah kasus kekerasan seksual secara verbal di Universitas Indonesia, kini lagu vulgar terungkap di ITB.
"Memang kasus semacam ini harus menjadi perhatian bersama. Jangan-jangan telah masuk paham liberalisme di kampus-kampus dengan paham permisivisme lewat sikap-sikap permisif yang tentu tantangannya berat, seperti masuk media sosial," katanya.
Selain itu, lanjutnya, apa yang dilakukan para tenaga pendidik pun harus mengintrospeksi apakah dosen itu hanya sebagai posisinya mengajar semata atau sebagai pendidik. Hal itu pun perlu mendapat feedback selama ini.
"Jadi dosen itu, sampaikan materi dari awal sampai akhir dan terlihat hebat, tapi jangan lupa si dosen juga mesti menjadi tenaga pendidik di mana mesti menanamkan karakter baik ke para mahasiswa, dan itu jauh lebih penting. Menurut saya, karakter atau sikap yang baik itu jauh lebih penting," katanya.
Cecep pun menegaskan, mahasiswa yang baik masih jauh lebih banyak, sehingga adanya fenomena ini dianggapnya masih sedikit terjadi di perguruan tinggi. Namun, tentu berpotensi menjadi racun untuk lainnya dan menodai.
"Kementerian saya nilai perlu lagi mengingatkan kampus-kampus untuk menerapkan kebijakan karakter kampus dengan baik," katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Aula-Barat-ITB-di-Jalan-Ganesa-Kota-Bandung.jpg)