DP3A Kota Bandung Catat Kekerasan Psikis Paling Banyak Terjadi di Satuan Pendidikan
Hingga kini bentuk kekerasan terhadap anak-anak yang paling banyak terjadi di lingkungan satuan pendidikan ialah kekerasan psikis.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung mencatat kekerasan psikis menjadi kasus yang paling banyak terjadi di satuan pendidikan.
Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Sumiati, mengakui, hingga kini bentuk kekerasan terhadap anak-anak yang paling banyak terjadi di lingkungan satuan pendidikan ialah kekerasan psikis.
Menurut dia, jika diurutkan maka kasus kekerasan terhadap anak-anak yang kerap ditangani DP3A Kota Bandung mulai dari psikis, kemudian fisik, dan seksual.
Baca juga: Kematian Calon Praja IPDN Bukan karena Kekerasan, sempat Mengeluh Lemas
"Di lingkungan sekolah, mayoritas kasus yang sering terjadi adalah kekerasan psikis," ujar Uum Sumiati dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/10/2025].
Ia mengatakan, pelaku kekerasan di satuan pendidikan juga bervariasi dan bisa berasal dari tenaga pendidik, tetapi ada juga kasus yang pelakunya ialah sesama peserta didik.
Pihaknya pun mencatat, dari seluruh kasus kekerasan terhadap anak-anak di Kota Bandung diperkirakan 10 persen di antaranya terjadi di lingkungan satuan pendidikan.
Sementara dalam penanganan jika kasus kekerasan anak terjadi di lingkungan sekolah, maka Satgas Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah itu menjadi yang pertama menanganinya.
"Kalau kejadiannya di sekolah, Satgas TPPK di sekolah itu akan menangani dulu, tetapi kalau di luar sekolah bisa dilaporkan ke kami di UPTD PPA, dan kami juga mendampingi sampai ke proses hukum," kata Uum Sumiati.
Ia menyampaikan, komitmen bersama antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk membangun budaya sekolah yang menghargai serta melindungi anak.
Hingga kini, di Kota Bandung terdapat 721 PAUD dan TK, 429 SD, serta 237 SMP yang menuju kategori Sekolah Ramah Anak, namun baru tiga sekolah yang mencapai level ‘maju’ berdasarkan standar Sekolah Ramah Anak.
"Kita baru sampai pada tahap mau, sehingga ke depannya harus naik ke tahap mampu dan maju. Pemkot Bandung sudah mendeklarasi Sekolah Ramah Anak, sehingga ini menjadi pijakan kuat menuju ke sana," ujar Uum Sumiati.
Uum mengakui, sekolah berperan penting dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, karena memiliki peranan besar dalam membantu membangun karakter, kemampuan bersosialisasi, serta rasa percaya diri.
Baca juga: LPSK Ungkap Masalah Serius di Jabar: 1.782 Permohonan Perlindungan, Kekerasan Seksual Anak Tertinggi
Karenanya, menurut dia, sekolah ramah anak mencakup semua satuan pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal yang memastikan terpenuhinya hak dan perlindungan anak.
"Sekolah juga harus memiliki mekanisme yang jelas untuk melindungi anak-anak dan segera menindaklanjuti pengaduan apabila terjadi kekerasan di lingkungan pendidikan," kata Uum Sumiati.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Kota Bandung
kekerasan psikis
Pendidikan
Uum Sumiati
| Mulai TK hingga SMP, Sekolah di Indramayu Bakal Masukkan Pelajaran Lalu Lintas ke Dalam Kurikulum |
|
|---|
| PKB Jabar Fest 2026, Gus Muhaimin Bakal Hadiri Inagurasi DPAC se-Jawa Barat di Arcamanik Bandung |
|
|---|
| Gerombolan Motor Bawa Sajam Mulai Rusuh di Bandung, Walkot Farhan Gandeng Brimob Patroli 24 Jam |
|
|---|
| Bandung Zoo Baru Bisa Dibuka Tahun Depan, Walkot Farhan Minta Harga Tiket Tetap Terjangkau |
|
|---|
| Tebing di Dago Bengkok Longsor Akibat Jalan Kerap Dilintasi Kendaraan Berat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-KDRT-Meta-AI.jpg)