Selasa, 21 April 2026

Memaknai Isra Miraj: Salat dan Manajemen Hidup Modern

Isra Miraj dipahami sebagai momen turunnya sebuah kerangka manajemen hidup yang melampaui logika efisiensi semata.

Canva
Ucapan Peringatan ISRA MIRAJ - Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Lilis Sulastri, menyatakan refleksi atas peristiwa Isra Miraj relevan dengan manajemen hidup modern. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Produktivitas kerap disebut sebagai wajah paling menonjol dari peradaban masa kini. Pekerjaan bisa dituntaskan lebih cepat, komunikasi berlangsung seketika, dan batas ruang serta waktu terasa semakin kabur.

Namun di balik pencapaian itu, muncul paradoks yang tak bisa diabaikan. Banyak manusia modern justru dilanda kelelahan, kehilangan fokus, dan mengalami krisis makna dalam menjalani hidup.

Kondisi tersebut muncul seiring kehidupan di era percepatan, ketika waktu terasa selalu sempit dan pikiran kerap tertinggal.

Situasi ini, menurut Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Lilis Sulastri, membuat refleksi atas peristiwa Isra Miraj kembali relevan. Ia menilai, meski berlatar sejarah yang berbeda, rangkaian peristiwa yang dialami Rasulullah menyimpan teladan penting dalam mengelola kehidupan modern.

“Salat sebagai hasil utama peristiwa Isra’ Mi‘raj, tidak hanya ibadah dan kewajiban ritual, tetapi sebagai sistem manajemen kehidupan dan seni mengelola hidup yang telah diuji lintas zaman yang sangat relevan dengan tantangan modern," katanya, Jumat (16/1/2026).

Pandangan tersebut menempatkan Salat bukan semata sebagai ritual, melainkan kerangka pengelolaan hidup yang menyentuh waktu, energi, perhatian, nilai, hingga tujuan manusia secara menyeluruh.

Dalam perspektif ini, Isra Miraj dipahami sebagai momen turunnya sebuah kerangka manajemen hidup yang melampaui logika efisiensi semata dan menyatukan dimensi spiritual, saintifik, filosofis, serta praktis.

“Tidak ada ibadah lain yang ditetapkan melalui peristiwa seagung Isra’ Mi‘raj yang memberi pesan simbolik yang kuat bahwa Salat adalah sistem inti dalam kehidupan manusia,” katanya.

Dalam teori manajemen, sistem inti menentukan stabilitas dan keberlanjutan sebuah organisasi. Analogi itu digunakan untuk menjelaskan posisi Salat sebagai penyangga utama agar manusia tidak mudah hanyut dalam arus disrupsi, perubahan cepat, dan tekanan tanpa henti yang menjadi ciri kehidupan modern.

Masuk ke ranah manajemen waktu, Lilis melihat bahwa manusia modern sejatinya tidak kekurangan teknik pengelolaan waktu, melainkan kehilangan ritme hidup yang manusiawi. Budaya selalu terhubung membuat waktu berjalan tanpa jeda dan tanpa makna. Di titik ini, Salat menghadirkan ritme harian yang terstruktur melalui lima waktu yang berulang dan konsisten.

“Salat menghadirkan ritme harian yang jelas dan berulang, yakni subuh, zuhur, asar, magrib, isya,” tuturnya.

Ritme tersebut membingkai aktivitas harian ke dalam fase awal, tengah, dan penutup, serupa dengan konsep structured work cycles dalam manajemen modern. Jeda yang hadir di antara aktivitas dipandang bukan sebagai penghambat produktivitas, melainkan sumber keseimbangan.

“Sebagai ritme Ilahiah Salat mengajarkan bahwa jeda bukan musuh produktivitas, melainkan sumber keseimbangan dan ketahanan," katanya.

Pendekatan serupa juga terlihat dalam manajemen energi. Ketika waktu bersifat tetap, energi manusia justru fluktuatif. Banyak kegagalan kinerja muncul bukan karena kekurangan waktu, tetapi karena energi mental dan emosional yang terkuras. Salat bekerja sebagai pengatur siklus energi melalui kombinasi gerakan fisik dan keheningan batin. Salat bekerja sebagai pengatur siklus energi.

Gerakan Salat mengaktifkan tubuh, sementara bacaan dan keheningannya menenangkan pikiran. Lebih dari itu, Salat menyentuh sumber energi makna yang sering diabaikan, ketika manusia bekerja tanpa memahami orientasi hidupnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved