Susu Formula Tak Bisa Sembarangan, IDAI Ingatkan Risiko Pada Bayi Pengungsi di Daerah Bencana
Dalam situasi bencana, perhatian terhadap kebutuhan dasar anak, khususnya nutrisi, menjadi hal yang sangat krusial.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Kemal Setia Permana
Risiko muncul ketika air yang digunakan tidak bersih, takaran pengenceran tidak sesuai, atau bayi sebelumnya tidak pernah mengonsumsi susu formula.
“Pemberian formula bayi yang tidak sesuai kaidah dan menggunakan air yang tidak terjamin dapat meningkatkan risiko diare, kekurangan gizi, bahkan kematian bayi,” tegasnya.
Menurut dokter Kadafi, susu formula hanya boleh diberikan dalam kondisi yang sangat terbatas, misalnya pada bayi piatu atau bayi yang benar-benar tidak bisa menyusu setelah dilakukan penilaian dan relaktasi tidak memungkinkan.
Itu pun, ketersediaan formula harus dijamin secara berkelanjutan selama bayi membutuhkannya, bukan hanya saat awal bencana.
“Pemberian formula harus berada di bawah supervisi dan monitoring ketat tenaga kesehatan terlatih. Ibu atau pengasuh juga perlu mendapatkan konseling dan informasi memadai tentang cara penyajian formula yang aman,” jelasnya.
Oleh karena itu, IDAI mendorong adanya dukungan nyata bagi ibu menyusui di situasi bencana.
Dukungan tersebut meliputi penyediaan ruang menyusui yang nyaman dan memiliki privasi, lingkungan yang mendukung agar ibu tidak terprovokasi berhenti menyusui, serta prioritas akses terhadap makanan bergizi dan air bersih.
“Ha yang tidak kalah penting adalah bantuan praktis dan pendampingan menyusui. Dengan dukungan yang tepat, proses menyusui bisa tetap berjalan meski dalam situasi sulit,” kata dia.
Ia berharap seluruh pihak, baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat, dapat lebih bijak dalam menyalurkan bantuan pangan agar benar-benar bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah kesehatan baru bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana. (*)
| Soroti Kasus Bayi Meninggal dalam Kandungan di Sumedang, DPRD Jabar Minta Perkuat Edukasi Kesehatan |
|
|---|
| Kasus Bayi Meninggal di Sumedang, Dinkes Jabar Sebut RS Pakuwon Sudah Siapkan Dokter Pengganti |
|
|---|
| Ada 62 Kasus Kematian Bayi di Sumedang dari Januari 2026, Terbaru Bayi Rosita, Mayoritas karena BBLR |
|
|---|
| Kasus Bayi Meninggal Diduga Ditolak RS Pakuwon, Wakil Ketua DPRD Sumedang Minta SOP Dicek |
|
|---|
| Kasus Bayi Rosita Meninggal di RS Pakuwon Sumedang, Dinkes Jabar Sebut Bukan Ditolak Operasi Caesar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-susu-dalam-gelas.jpg)