Susu Formula Tak Bisa Sembarangan, IDAI Ingatkan Risiko Pada Bayi Pengungsi di Daerah Bencana
Dalam situasi bencana, perhatian terhadap kebutuhan dasar anak, khususnya nutrisi, menjadi hal yang sangat krusial.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Perhatian terhadap kebutuhan dasar anak, khususnya nutrisi, menjadi hal yang sangat krusial dalam situasi bencana
- Kesalahan dalam pemberian makanan justru dapat memicu masalah kesehatan baru, terutama bagi bayi dan balita yang masih rentan
- Setiap bantuan makanan harus dipikirkan dengan matang, mulai dari kemudahan pengolahan hingga dampak kesehatan yang mungkin timbul setelah dikonsumsi
- Hal ini termasuk dalam penyajian susu formula untuk bayi
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dalam situasi bencana, perhatian terhadap kebutuhan dasar anak, khususnya nutrisi, menjadi hal yang sangat krusial.
Kesalahan dalam pemberian makanan justru dapat memicu masalah kesehatan baru, terutama bagi bayi dan balita yang masih rentan.
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Kurniawan Taufiq Kadafi, menekankan bahwa bantuan pangan untuk anak di lokasi bencana tidak boleh diberikan secara sembarangan.
Menurutnya, setiap bantuan makanan harus dipikirkan dengan matang, mulai dari kemudahan pengolahan hingga dampak kesehatan yang mungkin timbul setelah dikonsumsi.
“Secara prinsip, ketika kita memberikan bantuan makanan, harus dipikirkan apakah makanan itu bisa terolah dengan optimal atau justru menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujar dokter Kadafi saat wawancara virtual, Rabu (3/12/2025).
Baca juga: Bantuan Jabar Untuk Bencana Sumatera Terkumpul Rp7 M, Besok KDM Terbang Pakai Pesawat Carter
Ia mencontohkan makanan kering yang memerlukan proses pengolahan dengan air bersih kerap menjadi persoalan di pengungsian.
Dalam kondisi normal, pengolahan mungkin tidak bermasalah. Namun, di daerah bencana, keterbatasan air bersih dan sarana memasak membuat makanan tersebut sering kali dikonsumsi tanpa diolah dengan benar.
“Sering saya lihat di lapangan, mie instan dibawa ke lokasi bencana, lalu dikremes dan langsung dimakan oleh anak-anak. Kita tidak tahu apakah mereka mencuci tangan atau tidak. Ini jelas berisiko bagi kesehatan,” katanya.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar bantuan makanan difokuskan pada pangan yang siap saji, aman dikonsumsi tanpa pengolahan rumit, serta memiliki masa simpan yang cukup panjang sehingga tidak mudah basi.
Lebih lanjut, Dokter Kadafi menyoroti kelompok bayi di bawah usia satu tahun yang masih menyusu.
Ia menegaskan bahwa menyusui tetap menjadi pilihan utama dalam situasi bencana.
IDAI bersama Satgas ASI telah menerbitkan panduan penanggulangan bencana yang memuat prinsip-prinsip penting terkait pemberian ASI, dan panduan tersebut dapat diakses melalui kanal resmi IDAI.
Baca juga: Joey Pelupessy Ramai Dikabarkan Deal Gabung Persib di Putaran Dua, Segera Wilujeng Sumping?
“Menyusui itu sangat penting, terutama karena keterbatasan sarana untuk menyiapkan susu formula, seperti air bersih, bahan bakar, dan kesinambungan ketersediaan formula itu sendiri,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa distribusi susu formula secara masif tanpa pengawasan justru berpotensi menimbulkan dampak buruk.
| Soroti Kasus Bayi Meninggal dalam Kandungan di Sumedang, DPRD Jabar Minta Perkuat Edukasi Kesehatan |
|
|---|
| Kasus Bayi Meninggal di Sumedang, Dinkes Jabar Sebut RS Pakuwon Sudah Siapkan Dokter Pengganti |
|
|---|
| Ada 62 Kasus Kematian Bayi di Sumedang dari Januari 2026, Terbaru Bayi Rosita, Mayoritas karena BBLR |
|
|---|
| Kasus Bayi Meninggal Diduga Ditolak RS Pakuwon, Wakil Ketua DPRD Sumedang Minta SOP Dicek |
|
|---|
| Kasus Bayi Rosita Meninggal di RS Pakuwon Sumedang, Dinkes Jabar Sebut Bukan Ditolak Operasi Caesar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-susu-dalam-gelas.jpg)