Terjunkan 100 Mahasiswa ITB, Program Cyber Clinic Siap Beri Audit Proteksi Data UMKM secara Gratis
Walikota Bandung Muhammad Farhan menilai keberadaan Cyber Clinic dapat membantu pemerintah daerah memahami risiko dan dampak digitalisasi.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- STEI ITB bersama The Asia Foundation meluncurkan program Cyber Clinic di Aula Barat Kampus ITB untuk melindungi UMKM dari ancaman serangan siber global.
- Program ini melibatkan 100 mahasiswa untuk memberikan audit keamanan dasar dan pelatihan kesadaran digital gratis bagi 200 UMKM.
- Langkah ini diapresiasi Wali Kota Muhammad Farhan sebagai basis pemetaan risiko digitalisasi di Kota Bandung.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaku Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kini bukan hanya menghadapi persaingan pasar, tetapi juga ancaman serangan siber.
Menjawab kondisi itu, Institut Teknologi Bandung melalui Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) The Asia Foundation membuka Cyber Clinic meluncurkan program Cyber Clinic di Aula Barat Kampus ITB, Senin (25/5/2026).
Walikota Bandung Muhammad Farhan menilai keberadaan Cyber Clinic dapat membantu pemerintah daerah memahami risiko dan dampak digitalisasi yang selama ini sering luput diperhitungkan.
“Ini akan bisa memberikan masukan untuk Pemerintah Kota Bandung dalam rangka menggunakan berbagai macam teknologi digital dan juga metode yang bisa menghitung dampak dan risiko. Karena dua hal ini yang sering diabaikan oleh kita di pemerintahan,” kata Farhan, Senin (25/5/2026).
Menurut dia, pemerintah selama ini lebih banyak menerima aduan terkait persoalan digital yang bersifat personal.
Sementara laporan penipuan digital yang menimpa koperasi atau UMKM di Kota Bandung belum banyak ditemukan.
“Kita belum menemukan adanya aduan tentang digital fraud yang korbannya entitas usaha, baik koperasi maupun UMKM. Namun mumpung belum terjadi di sini, kita harus mulai menghitung risikonya,” ujarnya.
Inisiatif ini dirancang khusus untuk merespons akselerasi digitalisasi yang masif di sektor UMKM.
Saat ini, UMKM menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sebesar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, di mana 87 % di antaranya telah menggunakan internet dalam operasional bisnisnya.
“Ekonomi digital Indonesia terus tumbuh dan nilanya diprediksi mencapai $200 - 360 miliar pada tahun 2030”, jelas Budi Primawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).
Ia mencontohkan banyak kasus penipuan dalam perdagangan daring, mulai dari barang yang datang tidak sesuai pesanan hingga modus pembeli yang mengembalikan barang berbeda dari produk asli.
Menurut Budi, rendahnya literasi digital masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Karena itu, edukasi keamanan siber bagi UMKM dianggap mendesak.
“Kita kadang lupa cyber security itu penting. Misalnya kita beli barang lewat Instagram lalu diminta alamat, kita kasih saja. Kita tidak tahu itu benar atau tidak,” katanya.
Adopsi teknologi ini tidak dibarengi dengan kesiapan keamanan digital.
Dahnial Apriyadi, Deputi Direktur pada Departemen Pelindungan Konsumen OJK, mengatakan, 43 persen dari total serangan siber global kini menargetkan usaha kecil.
“Skor Indonesia mencapai 6,53 dari skala 10, menempatkannya di urutan 111 dari 112 negara yang diteliti, hanya sedikit lebih baik dari Pakistan yang berada di posisi paling rentan," ujarnya.
Sementara itu, Rio Pratama perwakilan Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata, BSSN, menyebut kondisi keamanan digital UMKM masih minim.
“Kondisi keamanan digital UMKM menunjukkan bahwa dari 1004 sample UMKM terdapat 64.1 % UMKM berada dalam kategori keamanan digital kurang dan buruk," jelas Rio.
Program Cyber Clinic sendiri dirancang dengan melibatkan mahasiswa ITB sebagai pendamping UMKM.
Sebanyak 100 mahasiswa akan dilatih kemampuan teknis keamanan siber sekaligus keterampilan sosial sebelum diterjunkan mendampingi sekitar 200 UMKM digital.
Pendampingan dilakukan secara gratis melalui audit keamanan dasar, pelatihan kesadaran siber, hingga bantuan pengamanan perangkat dan infrastruktur digital usaha.
Ketua Program Cyber Clinic ITB, Muhammad Zuhri Catur Candra mengatakan program itu bukan sekadar proyek akademik, melainkan bagian dari upaya membangun komunitas digital yang lebih tangguh.
“Misi utama kami adalah membangun komunitas yang lebih tangguh menghadapi tantangan digital sekaligus memastikan keamanan digital bisa dinikmati semua pihak,” ujarnya.
Sementara Country Representative The Asia Foundation Indonesia, Hana A Satriyo mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi dipilih agar pendampingan bisa berlangsung berkelanjutan.
ITB dipilih karena memiliki daya ungkit besar secara nasional. Program serupa juga tengah dikembangkan bersama kampus lain di Indonesia sebagai bagian dari jaringan keamanan siber kawasan Asia Pasifik.
“UMKM itu penyangga ekonomi Indonesia. Kalau uang kecil yang mereka miliki bocor karena keamanan digital yang buruk, dampaknya bisa besar bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya. (*)
| Southwest Jiaotong University dan ITB Resmikan Tianyou–Djuanda Excellent Engineers College |
|
|---|
| Pasca-Mahasiswa ITB Hilang, Jalur Pendakian Pasir Kuda di Gunung Puntang Bandung Ditutup Sementara |
|
|---|
| Kisah Ujang Cari Mahasiswa ITB Hilang hingga Tengah Malam, Pulang Pergi Gunung Puntang-Pasir Kuda |
|
|---|
| Pakar dari ITB Ingatkan Risiko Pendakian Gunung Api Aktif, Menarik tapi Berbahaya |
|
|---|
| Kanwil Kemenkum Jabar Mendukung Hilirisasi Riset Menjadi Aset dan Pemajuan Sentra KI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Wali-Kota-Bandung-Muhammad-Farhan-dalam-peluncurand.jpg)