Pakar dari ITB Ingatkan Risiko Pendakian Gunung Api Aktif, Menarik tapi Berbahaya
Aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki resiko yang tidak dapat diabaikan.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Gunung Dukono di Halmahera Utara dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dengan status terbaru level 3 sejak April 2026 sehingga pendakian seharusnya dilarang.
- Dosen ITB Mirzam Abdurrachman menekankan daya tarik gunung aktif tidak boleh mengesampingkan keselamatan; popularitas di media sosial tidak sebanding dengan risiko erupsi.
- Bahaya erupsi meliputi abu vulkanik, bom vulkanik, awan panas, gas beracun, lava, lahar, hingga longsor, yang mematikan dalam hitungan detik.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aktivitas Gunung Dukono menjadi perhatian setelah peristiwa pendakian menimbulkan korban jiwa. Gunung api yang ada di Halmahera Utara, Maluku Utara itu dikenal sebagai salahsatu gunung api paling aktif di tanah air.
Dosen kelompok keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Mirzam Abdurrachman menilai karakter Gunung Dukono ini gunung api aktif dengan daya tarik sekaligus beresiko tinggi. Katanya, Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Aktivitas tersebut menjadikan Dukono menarik untuk diamati, terutama bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam sekaligus menyaksikan fenomena erupsi secara langsung. Namun, daya tarik tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.
"Gunung api itu menjadi semakin menarik ketika gunung apinya aktif. Para pendaki ingin menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan atraksi yang luar biasa," ujarnya, Kamis (14/5/2026) dalam keterangan resmi ITB.
Baca juga: Saran BPBD Sumedang bagi Pendaki yang Ingin Mendaki Gunung Cakrabuana, Persiapan Jadi Kunci
Dia menegaskan aktivitas erupsi, baik dalam skala kecil maupun besar, tetap memiliki resiko yang tidak dapat diabaikan. Keinginan untuk memperoleh foto, video, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan bahaya yang dapat terjadi di lapangan.
"Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi," ujarnya.
Mirzam menjelaskan status gunung api ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik. Status tersebut terdiri atas normal, waspada, siaga, hingga awas, atau level 1 sampai level 4. Peningkatan status biasanya didasarkan pada sejumlah indikator, seperti aktivitas kegempaan, erupsi kecil, dan perubahan aktivitas gunung.
Dalam konteks Gunung Dukono, dia menyebutkan pada Agustus 2024 status gunung berada pada level 2 dengan rekomendasi radius aman sejauh 3 kilometer. Kemudian, pada Desember 2024, radius rekomendasi tersebut meningkat menjadi 4 kilometer. Selanjutnya, pada 17 April 2026, status Dukono berada pada level 3 sehingga aktivitas pendakian seharusnya tidak dilakukan.
“Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun,” ujarnya.
Mirzam mengingatkan bahaya gunung api tidak hanya berasal dari abu vulkanik. Memperhatikan arah angin memang dapat membantu menghindari sebaran abu, tetapi langkah tersebut hanya mengurangi salah satu jenis resiko. Erupsi gunung api juga dapat menghasilkan bom vulkanik, awan panas, gas beracun, aliran lava, lahar, hingga longsor.
Menurutnya, material seperti bom vulkanik sangat berbahaya karena terlontar secara balistik dan tidak mengikuti arah angin. Selain itu, awan panas memiliki kecepatan tinggi sehingga sulit dihindari apabila sudah melintas.
“Kalau yang keluar adalah wedhus gembel dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,” ujarnya.
Baca juga: Pendakian Gunung Gede via Salabintana, Cibodas, dan Gunung Putri Ditutup Hingga Akhir Maret
Mirzam menambahkan, sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi. Informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah harus dapat diterima masyarakat, dipahami dengan baik, serta disampaikan melalui pihak yang dipercaya masyarakat setempat. Tantangan di lapangan muncul karena tidak semua masyarakat memiliki akses internet, memahami sistem peringatan dini, maupun memahami bahasa Indonesia dengan baik.
Tokoh masyarakat, kepala desa, pemandu lokal, dan pihak yang dipercaya warga perlu dilibatkan sebagai penghubung informasi. Dengan demikian, informasi ilmiah dapat diterima masyarakat melalui bahasa yang lebih mudah dipahami.
"Mitigasi bencana gunung api merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, PVMBG, BNPB, akademisi, pengelola wisata, pemandu, masyarakat lokal, hingga pendaki memiliki peran masing-masing. Informasi mengenai status gunung api dan rekomendasi aktivitas harus merujuk pada sumber resmi, bukan hanya berdasarkan pengalaman individu atau pihak pengelola wisata. Setiap wisatawan harus mencari informasi yang cukup, apakah ini saat yang tepat, apakah ini paling beresiko atau tidak. Itu harus ditakar,” katanya.
Dia menegaskan gunung api aktif tetap dapat dinikmati dari jarak aman. Kegiatan wisata alam tidak harus dihentikan sepenuhnya, tetapi perlu dilakukan dengan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku. Dia pun mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Keindahan alam, pengalaman pendakian, maupun popularitas di media sosial tidak sebanding dengan resiko kehilangan nyawa.(*)
| Kanwil Kemenkum Jabar Mendukung Hilirisasi Riset Menjadi Aset dan Pemajuan Sentra KI |
|
|---|
| ASIX Luncurkan LIBRA: Asisten AI Hasil Kolaborasi Global dengan China Mobile dan Akademisi ITB |
|
|---|
| Hult Prize Indonesia 2026 Dimenangi Kakarobot ITS dengan Fokus Teknologi untuk Anak Pedesaan |
|
|---|
| Mahasiswa ITB yang Hilang di Gunung Puntang Ditemukan Tersesat 8 KM dari Jalur Awal Pasir Kuda |
|
|---|
| BREAKING NEWS Mahasiswa ITB yang Hilang di Gunung Puntang Ditemukan Selamat di Leweung Malang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Funhike-Pendakian-Bersama-Forester-Sumpah-Pemuda-2023_3.jpg)