Rabu, 27 Mei 2026

Terjunkan 100 Mahasiswa ITB, Program Cyber Clinic Siap Beri Audit Proteksi Data UMKM secara Gratis

Walikota Bandung Muhammad Farhan menilai keberadaan Cyber Clinic dapat membantu pemerintah daerah memahami risiko dan dampak digitalisasi.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Nappisah
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam peluncuran program Cyber Clinic di Aula Barat Kampus ITB, Senin (25/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • STEI ITB bersama The Asia Foundation meluncurkan program Cyber Clinic di Aula Barat Kampus ITB untuk melindungi UMKM dari ancaman serangan siber global. 
  • Program ini melibatkan 100 mahasiswa untuk memberikan audit keamanan dasar dan pelatihan kesadaran digital gratis bagi 200 UMKM. 
  • Langkah ini diapresiasi Wali Kota Muhammad Farhan sebagai basis pemetaan risiko digitalisasi di Kota Bandung.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaku Unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kini bukan hanya menghadapi persaingan pasar, tetapi juga ancaman serangan siber. 

Menjawab kondisi itu, Institut Teknologi Bandung melalui Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) The Asia Foundation membuka Cyber Clinic meluncurkan program Cyber Clinic di Aula Barat Kampus ITB, Senin (25/5/2026). 

Walikota Bandung Muhammad Farhan menilai keberadaan Cyber Clinic dapat membantu pemerintah daerah memahami risiko dan dampak digitalisasi yang selama ini sering luput diperhitungkan.

“Ini akan bisa memberikan masukan untuk Pemerintah Kota Bandung dalam rangka menggunakan berbagai macam teknologi digital dan juga metode yang bisa menghitung dampak dan risiko. Karena dua hal ini yang sering diabaikan oleh kita di pemerintahan,” kata Farhan, Senin (25/5/2026). 

Menurut dia, pemerintah selama ini lebih banyak menerima aduan terkait persoalan digital yang bersifat personal. 

Sementara laporan penipuan digital yang menimpa koperasi atau UMKM di Kota Bandung belum banyak ditemukan.

“Kita belum menemukan adanya aduan tentang digital fraud yang korbannya entitas usaha, baik koperasi maupun UMKM. Namun mumpung belum terjadi di sini, kita harus mulai menghitung risikonya,” ujarnya.

Inisiatif ini dirancang khusus untuk merespons akselerasi digitalisasi yang masif di sektor UMKM. 

Saat ini, UMKM menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sebesar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, di mana 87 % di antaranya telah menggunakan internet dalam operasional bisnisnya. 

“Ekonomi digital Indonesia terus tumbuh dan nilanya diprediksi mencapai $200 - 360 miliar pada tahun 2030”, jelas Budi Primawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). 

Ia mencontohkan banyak kasus penipuan dalam perdagangan daring, mulai dari barang yang datang tidak sesuai pesanan hingga modus pembeli yang mengembalikan barang berbeda dari produk asli.

Menurut Budi, rendahnya literasi digital masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Karena itu, edukasi keamanan siber bagi UMKM dianggap mendesak.

“Kita kadang lupa cyber security itu penting. Misalnya kita beli barang lewat Instagram lalu diminta alamat, kita kasih saja. Kita tidak tahu itu benar atau tidak,” katanya.

Adopsi teknologi ini tidak dibarengi dengan kesiapan keamanan digital. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved