Selasa, 21 April 2026

Mahasiswa Widyatama Diuji Langsung di Dunia Kerja Jepang

Mahasiswa yang mengikuti program magang di Jepang kerap mengalami perubahan signifikan setelah kembali ke Indonesia.

Tribun Jabar/Dok Universitas Widyatama
MAGANG - Mahasiswa Widyatama yang magang di Jepang 

Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa yang mengikuti program magang di Jepang kerap mengalami perubahan signifikan setelah kembali ke Indonesia
  • Selama satu tahun di Jepang, mahasiswa ditempatkan di berbagai sektor, mulai dari industri pariwisata, restoran, hingga penginapan
  • Gaji kerja di Jepang yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan menjadi daya tarik tersendiri.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Belajar bahasa asing ternyata bukan hanya soal tata bahasa dan kosakata. Bagi mahasiswa Program Studi S1 Bahasa Jepang di Universitas Widyatama, pengalaman tersebut justru menjadi pintu untuk memahami cara hidup dan pola pikir yang berbeda, bahkan mengubah karakter diri.

Ketua Program Studi S1 Bahasa Jepang Widyatama, Dinda Gayatri Ranadireksa, menuturkan bahwa mahasiswa yang mengikuti program magang di Jepang kerap mengalami perubahan signifikan setelah kembali ke Indonesia.

“Mereka bukan cuma belajar kerja, tapi belajar hidup. Dari hal kecil seperti cara buang sampah sampai bagaimana menghargai waktu,” ujar Dinda saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Selama satu tahun di Jepang, mahasiswa ditempatkan di berbagai sektor, mulai dari industri pariwisata, restoran, hingga penginapan. 

Namun yang paling berkesan bukanlah jenis pekerjaannya, melainkan sistem kerja yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Di sektor sederhana seperti kedai minuman, misalnya, mahasiswa dituntut menghafal ratusan istilah, memahami komposisi produk, hingga melayani pelanggan dengan standar komunikasi yang sangat spesifik.

“Bukan capek berdirinya, tapi bagaimana mereka harus cepat, tepat, dan hafal banyak hal. Itu yang melatih mereka,” kata Dinda.

Tak hanya itu, mahasiswa juga belajar budaya kerja Jepang yang menekankan efisiensi dan ketepatan.

Sistem seperti 5S dan PDCA menjadi bagian dari keseharian mereka.

Pengalaman tersebut, menurut Dinda, secara tidak langsung membentuk karakter mahasiswa menjadi lebih detail dan terstruktur dalam berpikir.

“Tanpa disadari mereka jadi perfeksionis. Semua harus terukur, harus jelas waktunya, harus efisien,” jelasnya.

Namun, perubahan ini juga membawa tantangan tersendiri.

Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami “culture shock” ketika kembali ke Indonesia.

“Mereka sudah terbiasa dengan sistem yang sangat rapi di Jepang. Ketika pulang, kadang merasa semuanya tidak teratur,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved