Laut Indonesia Rawan Ancaman, Guru Besar UIN Ingatkan Pentingnya Pencegahan Sejak Dini
Selain kapal dagang, jalur laut berpotensi dimanfaatkan berbagai aktivitas lintas negara yang dapat mengancam stabilitas nasional.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Achmad Tjachja, menilai laut Indonesia memiliki potensi ancaman yang cukup serius, sehingga pertahanan negara tentu harus ditingkatkan.
Dia menilai, laut Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan internasional yang sangat sibuk. Selain kapal dagang, jalur ini berpotensi dimanfaatkan berbagai aktivitas lintas negara yang dapat mengancam stabilitas nasional.
"Ancaman tersebut mencakup pelanggaran batas wilayah, penangkapan ikan ilegal, penyelundupan, hingga kejahatan transnasional," ujar Achmad Tjachja, Rabu (17/12/2025).
Dalam situasi seperti ini, dia pun menilai bahwa sistem pertahanan negara tidak boleh bersifat reaktif dan negara juga tentu tidak seharusnya hanya bergerak melakukan penindakan setelah pelanggaran terjadi.
"Tetapi harus mampu mencegah sejak dini melalui penguatan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya laut. Tanpa kesadaran maritim yang memadai, pertahanan negara akan selalu tertinggal satu langkah," katanya.
Di sisi lain, dia menilai pertahanan negara modern juga sangat berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Kesejahteraan nelayan dan komunitas pesisir memiliki hubungan langsung dengan stabilitas keamanan laut.
"Ketika masyarakat pesisir sejahtera dan merasa memiliki lautnya, mereka secara alami akan menjadi bagian dari sistem pengawasan wilayah," ucap Achmad.
Menurutnya, jika masyarakat pesisir terpinggirkan dan tidak memperoleh manfaat ekonomi yang adil, potensi kerawanan justru akan meningkat. Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi berbagai aktivitas ilegal di wilayah perairan Indonesia.
Oleh karena itu, dia pun menegaskan bahwa penguatan ekonomi maritim harus berjalan seiring dengan penguatan pertahanan. Ketahanan negara tidak hanya dibangun dari kekuatan militer, tetapi juga dari ketahanan ekonomi dan sosial masyarakatnya.
"Laut adalah ruang hidup bersama. Menjaganya bukan hanya tugas negara, tetapi tanggung jawab seluruh elemen bangsa," katanya.
Dia mengatakan, perubahan cara pandang terhadap laut menjadi hal mendesak. Laut harus diposisikan sebagai ruang masa depan yang menjanjikan, bukan sekadar ruang kerja tradisional. Perubahan narasi ini dinilai penting untuk mendorong keterlibatan generasi muda.
"Jadi, pertahanan maritim tidak boleh berdiri sendiri. Kesadaran masyarakat bahwa laut merupakan bagian dari identitas dan kedaulatan bangsa justru menjadi benteng pertahanan paling awal," ujar Achmad.
| Siswi SMA di Cirebon Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual oleh Sesama Pelajar, Diancam Sebar Foto |
|
|---|
| Peringatan Keras Bojan Hodak Jelang Lawan Bali United: Ini Persib, Bukan PSBS |
|
|---|
| Perang Iran Pecah, Harga BBM Naik: Pengamat Unpar Ingatkan Ancaman PHK di Jawa Barat |
|
|---|
| NS Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi, Ibu Kandung Dapat Teror, ''Jangan Banyak Bicara!'' |
|
|---|
| Resbob Terancam Hukuman Maksimal 4 Tahun Penjara, Jaksa Siapkan 6 Saksi untuk Sidang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Guru-Besar-UIN-Syarif-Hidayatullah-Jakarta-Prof-Achmad-Tjachja-saat.jpg)