Rabu, 20 Mei 2026

Krisis BBM Hantam Palabuhanratu, Nelayan Sukabumi Terjepit Harga Solar dan Nilai Jual Ikan

Sejumlah kapal di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, terpaksa berhenti melaut selama dua minggu terakhir akibat kelangkaan solar.

Tayang:
Tribun Jabar/M RIZAL JALALUDIN
Sejumlah kapal nelayan bersandar di Dermaga Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Sudah dua pekan ini pasokan BBM industri langka menyebabkan nelayan tidak bisa melaut. 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah kapal nelayan berkapasitas di atas 30 GT di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, terpaksa berhenti melaut selama dua minggu terakhir akibat kelangkaan solar industri. 
  • Selain pasokan yang sulit karena kendala distribusi, nelayan juga dibebani lonjakan harga BBM non-subsidi yang menembus Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter. 
  • HNSI Sukabumi kini mendesak langkah konkret pemerintah dan instansi terkait agar mata pencaharian warga kembali normal.

Laporan Kontributor Tribunjabar.id M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Sudah selama sekitar dua minggu, sejumlah kapal nelayan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, terpaksa bersandar dan tidak beroperasi akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Pasokan solar industri untuk kapal nelayan berkapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT) ini sulit didapat oleh nelayan dalam dua pekan terakhir ini. Alhasil, mereka pun berhenti melaut.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Sukabumi, H. Dede Ola, mengatakan, kelangkaan BBM industri ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.

"Kalau persoalan ini tidak segera disikapi, dampaknya akan sangat besar terhadap nelayan dan produksi perikanan di Sukabumi," kata Dede Ola saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026).

Dede Ola menjelaskan, terdapat beberapa penyebab langkanya pasokan BBM industi ke Palabuhanratu. Salah satunya kendala nonteknis yang membuat distribusi BBM tidak berjalan normal.

HNSI pun berharap segera ada solusi dari pihak terkait, agar nelayan bisa kembali melaut.

"Kami berharap ada solusi cepat. Jangan sampai nelayan terus dirugikan karena sulit mendapatkan BBM industri," ucap Dede Ola.

Tak hanya soal BBM yang langka, nelayan juga terbebani oleh kenaikan harga solar industri yang mencapai Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per liter. Akibatnya, biaya operasional melaut pun semakin tinggi.

Selain pasokan yang langka, nelayan juga dibebani lonjakan harga solar industri yang kini mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter. Kenaikan tersebut membuat biaya operasional melaut semakin tinggi.

"Harga yang terus naik tentu sangat memberatkan nelayan. Sementara hasil tangkapan belum tentu stabil. BBM naik, harga ikan masih tetap. Sehingga mengakibatkan para nelayan tidak bisa melaut dan dampaknya produksi ikan yang menurun," kata Dede Ola.

Dede Ola mengatakan, HNSI Kabupaten Sukabumi telah melakukan pembahasan bersama sejumlah instansi terkait untuk mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.

Rapat koordinasi itu digelar di Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP) dan dihadiri Kepala PPNP, Satpolairud, Dinas Perikanan, Pos TNI AL, serta para pengusaha perikanan dan juragan kapal.

"Kami berharap ada langkah konkret agar pasokan BBM industri maupun penambahan kuota BBM Subsidi kembali normal sehingga nelayan bisa kembali melaut. Agar para nelayan kembali bisa beroperasi dan melanjutkan mata pencahariannya sehingga resiko biaya keluarganya pun terpenuhi," ujar Dede Ola.* (M Rizal Jalaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved