Senin, 18 Mei 2026

TPA Jalupang di Karawang Overload, Tinggi Gunungan Sampah Capai 15 Meter

Tinggi gunungan sampah bahkan telah melampaui batas teknis yang dianjurkan dalam pengelolaan landfill.

Tayang:
Penulis: Cikwan Suwandi | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/Cikwan Suwandi
TPA JALUPANG - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jalupang di Desa Wancimekar, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang saat ini menghadapi kondisi kelebihan kapasitas (overload). 

Ringkasan Berita:
  • TPA Jalupang di Karawang mengalami kondisi overload dengan timbunan sampah mencapai sekitar 15 meter, melebihi batas teknis ideal 12 meter.
  • Faktor penyebabnya antara lain keterbatasan lahan, tingginya timbulan sampah (sekitar 1.200 ton per hari), serta sistem pengelolaan yang masih dominan open dumping/controlled landfill.
  • Kondisi ini menimbulkan risiko longsor akibat curah hujan dan kepadatan sampah tidak merata, serta risiko kebakaran karena gas metana dan aktivitas pemulung.
 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Karawang, Cikwan Suwandi

TRIBUNJABAR.ID, KARAWANG – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jalupang di Desa Wancimekar, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang saat ini menghadapi kondisi kelebihan kapasitas (overload). 

Tinggi gunungan sampah bahkan telah melampaui batas teknis yang dianjurkan dalam pengelolaan landfill.

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, Willyanto Salmon mengatakan ketinggian timbunan sampah di TPA Jalupang kini diperkirakan mencapai sekitar 15 meter.

Baca juga: Mengintip Kondisi TPSA Cibeureum Sumedang, Tumpukan Sampah Tak Menggunung Tinggi

“Secara teknis, tinggi timbunan sampah dalam sistem landfill idealnya maksimal sekitar 12 meter. Saat ini kondisi di TPA Jalupang sudah melampaui batas tersebut,” kata Willy, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, tingginya timbunan sampah disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya keterbatasan luas lahan TPA, tingginya timbulan sampah di Kabupaten Karawang, serta sistem pengelolaan yang masih didominasi metode open dumping atau controlled landfill.

Selain persoalan kapasitas, kondisi tersebut juga memunculkan potensi risiko seperti longsor dan kebakaran.

Willy menjelaskan, potensi longsor dapat terjadi karena timbunan sampah yang tinggi, kepadatan sampah yang tidak merata, serta curah hujan yang tinggi.

Sementara risiko kebakaran muncul akibat gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah, ditambah cuaca panas dan aktivitas pemulung yang terkadang memicu pembakaran liar.

“Beberapa waktu lalu bahkan pernah terjadi kebakaran cukup luas di TPA Jalupang yang sempat mengganggu aktivitas pembuangan sampah,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, DLH Karawang melakukan sejumlah langkah penanganan. Di antaranya penataan dan perataan timbunan sampah menggunakan alat berat, pembuatan drainase serta tanggul pengaman, hingga penutupan tanah atau soil cover secara berkala.

Baca juga: Gunungan Sampah TPA Cikolotok Dijaga Maksimal 4 Meter, DLH Purwakarta Klaim Masih Zona Aman

Selain itu, pihaknya juga menyediakan sumur gas atau ventilasi metana, memperketat pengawasan aktivitas pemulung, serta menyiapkan alat pemadam dan embung air darurat di kawasan TPA.

Saat ini, luas area TPA Jalupang sekitar 10 hektare. Namun kapasitas tersebut dinilai sudah tidak memadai untuk menampung timbulan sampah dari seluruh wilayah Kabupaten Karawang yang terus meningkat.

DLH Karawang mencatat timbulan sampah di Kabupaten Karawang mencapai sekitar 1.200 ton per hari. Namun yang dapat terangkut ke TPA Jalupang hanya sekitar 350 ton per hari karena keterbatasan armada pengangkut.

Jika dikonversi ke dalam volume, sampah yang masuk ke TPA diperkirakan mencapai sekitar 3.500 hingga 4.000 meter kubik per hari.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved