Jumat, 12 Juni 2026

Imlek dan Ramadan Bertemu, Harmoni Lintas Iman Dirajut di Garut

Perayaan Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum silaturahmi lintas agama di Garut.

Tayang:
Tribun Jabar
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tahun ini beriringan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mendasari silaturahmi lintas agama di Garut pada Sabtu (28/02/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Perayaan Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum silaturahmi lintas agama di Garut atas inisiasi Agustine Merdekawati. 
  • Kegiatan yang dihadiri Forkopimda dan berbagai tokoh agama itu menegaskan bahwa toleransi diwujudkan melalui praktik nyata, bukan sekadar konsep. 
  • Selain mempererat persaudaraan, acara tersebut juga diisi aksi sosial sebagai bentuk kepedulian dan penguat harmoni masyarakat.

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tahun ini beriringan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kebetulan yang jarang terjadi itu mendorong diadakannya silaturahmi lintas agama di Kabupaten Garut pada Sabtu (28/02/2026).

Acara tersebut dihadiri unsur Forkopimda, termasuk Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, Forum Kerukunan Umat Beragama, para pemuka agama, budayawan, kalangan perbankan, hingga pelaku usaha.

Sejumlah tokoh dari berbagai keyakinan turut hadir, mulai dari Ketua Vihara Dharma Loka Garut Senjaya, perwakilan MUI, PCNU, perwakilan gereja, pesantren, sampai tokoh budaya.

Sebagai penggagas, Agustine Merdekawati yang merupakan seorang notaris asal Garut, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia memandang pertemuan ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi ruang bersama untuk memperkokoh persatuan di tengah keragaman masyarakat Garut.

“Kehadiran kita di sini dari berbagai latar belakang keyakinan adalah bukti nyata bahwa persaudaraan kemanusiaan jauh lebih kuat daripada perbedaan yang ada,” ujar Agustine.

Ia menjelaskan, bertepatan­nya Imlek dan Ramadan pada tahun ini menghadirkan simbol keharmonisan budaya dan agama yang tidak setiap saat terjadi. Ornamen Imlek yang berpadu dengan atmosfer Ramadan menurutnya mencerminkan keelokan kebhinekaan Indonesia, terutama di Garut.

“Tahun 2026 ini menjadi momen istimewa. Perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan hadir dalam waktu yang bersamaan. Ini fenomena langka yang menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Bagi Agustine, toleransi tidak dimaknai sebagai peleburan keyakinan, melainkan sebagai upaya menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat antarpemeluk agama.

“Modernisasi agama adalah kunci. Toleransi bukan mencampuradukkan keyakinan, tetapi bagaimana kita bisa saling memahami dan menghormati satu sama lain,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada jajaran Forkopimda Kabupaten Garut yang dinilainya mampu menjaga situasi tetap kondusif sehingga relasi antarumat beragama berjalan harmonis dan damai.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Forkopimda yang terus menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Semoga melalui kegiatan ini kita semakin mempererat tali silaturahmi antarumat beragama,” ujarnya.

Agustine berharap kegiatan tersebut dapat memperteguh komitmen kolektif untuk menjadikan keberagaman sebagai energi pemersatu, bukan pemicu perpecahan.

“Mari kita jadikan perbedaan ini sebagai pelangi yang mempercantik cakrawala Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya pertemuan lintas komunitas yang diprakarsai Agustine Merdekawati. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan praktik harmoni yang hidup di tengah masyarakat Kabupaten Garut.

Syakur mengaku bersyukur bisa hadir dalam acara yang sarat dengan pesan persatuan dan kepedulian sosial tersebut.

“Alhamdulillah, hari ini saya bisa menghadiri acara yang diinisiasi oleh Bu Doktor Agustine Merdekawati. Ini salah satu kegiatan yang sangat baik karena melibatkan berbagai komunitas di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia melihat perayaan dan momentum keagamaan dijalankan dengan pendekatan inklusif. Warga Muslim turut meramaikan Imlek, sementara pada Ramadan seluruh lapisan masyarakat juga diajak berbagi kebersamaan.

“Imlek dirayakan bersama, warga Muslim hadir. Saat Ramadan juga semua warga diundang. Ini menunjukkan kebersamaan di atas segala perbedaan,” katanya.

Tidak hanya menjadi ajang temu silaturahmi, kegiatan tersebut juga disertai aksi sosial berupa penyaluran bantuan kepada masyarakat. Menurut Syakur, kepedulian sosial itulah yang memperkuat ikatan antarwarga.

“Ini bukan hanya seremoni, tetapi juga ada kewajiban sosial yang ditunaikan. Bantuan diberikan, ada kepedulian yang nyata. Itu yang bisa merekatkan kita semua dalam satu kesatuan,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya merawat suasana harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Syakur memastikan kondisi Garut saat ini tetap aman dan damai tanpa konflik antar keyakinan.

“Garut sebesar ini tetap dalam keadaan tenteram dan damai. Tidak ada konflik antar keyakinan agama. Itu yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Syakur berharap hubungan antarumat beragama di Kabupaten Garut terus terjaga dan terbebas dari gesekan yang dapat mengganggu persatuan.

“Semoga kebersamaan ini terus berlanjut. Kita ingin Garut tetap aman, stabil, dan menjadi contoh toleransi bagi daerah lain,” pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved