Minggu, 12 April 2026

Sungai Cipunagara Berbusa Putih Diduga Tercemar Limbah Industri, Petani Ikan Subang Gulung Tikar

Pencemaran Sungai Cipunagara di Subang yang diduga akibat limbah industri menyebabkan puluhan petani ikan di Kecamatan Cisalak gulung tikar.

Ringkasan Berita:
  • Pencemaran Sungai Cipunagara di Subang yang diduga akibat limbah industri menyebabkan puluhan petani ikan di Kecamatan Cisalak gulung tikar. 
  • Air sungai kini berbusa putih pekat dan beraroma kimia menyengat, sehingga tidak lagi layak untuk budidaya. 
  • Sejak dua tahun terakhir, banyak kolam dibiarkan terbengkalai karena petani kehilangan sumber air bersih, memaksa warga beralih profesi demi menyambung hidup.

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Pencemaran limbah diduga berasal dari aktivitas industri di bagian hulu Sungai Cipunagara kian meresahkan warga Kabupaten Subang, Jawa Barat. 

Limbah berwarna putih pekat menyerupai busa sabun tampak mengalir deras mengikuti arus sungai, masuk ke saluran-saluran kolam ikan milik warga, dan memicu kekhawatiran akan kematian ikan secara massal.

Dari pantauan Tribunjabar.id di lapangan pada Minggu (1/3/2026), air Sungai Cipunagara terlihat keruh keabu-abuan dengan lapisan busa putih tebal yang menggumpal di beberapa titik permukaan. 

Busa tersebut tidak cepat hilang meski terbawa arus, menandakan adanya kandungan kimia tertentu. Aroma menyengat tercium di sekitar aliran sungai, perpaduan bau deterjen dan zat kimia yang semakin kuat saat debit air menurun. 

Kondisi ini membuat warga enggan mendekat, apalagi memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan budidaya.

Akibat pencemaran ini, puluhan petani ikan di Kampung Nyalindung, Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak, terpaksa menghentikan aktivitas budidaya selama dua tahun terakhir.

Mereka mengaku tidak memiliki sumber air bersih alternatif untuk mengisi kolam. Air sungai yang tercemar dinilai sangat berisiko menyebabkan stres hingga kematian ikan dalam jumlah besar, sehingga petani tidak berani menebar benih.

Para petani menyebut kerugian yang dialami tidak sedikit. Banyak kolam dibiarkan kosong dan tak terkelola. Mereka menduga limbah berasal dari sejumlah perusahaan di bagian hulu sungai yang membuang limbah tanpa pengolahan memadai. 

Dampaknya merembet ke sektor sosial, sebagian warga kehilangan pekerjaan, beralih profesi menjadi petani darat atau kuli serabutan demi menyambung hidup.

Seorang warga, Aep Saepuloh, mengungkapkan hanya petani yang memiliki air cadangan yang masih bisa bertahan. Namun, itu pun bersifat sementara karena risiko pencemaran tetap ada saat banjir atau limpasan limbah kembali terjadi.

"Kenapa saya bisa bertahan sampai sekarang masih nanam (ikan), karena saya itu ada air cadangan," kata Aep kepada wartawan di salah satu kolam yang ia kelola, Minggu (1/3/2026).

"Karena ada air cadangan, saya bisa bertahan juga itu. Kalau yang lain enggak ada air cadangan sehingga dia udah sudah selesai aja gitu bangkrut," tambahnya.

Warga lain, Nana, menyebut sejak sekitar 2010 banyak kolam di wilayahnya berhenti menggunakan air Cipunagara karena kualitas air yang terus menurun. 

"Kami sudah dari tahun 2010 sudah tidak menggunakan air tersebut karena memang airnya sudah tercemar dan engga bisa digunakan. Adapun kolam-kolam yang masih jalan itu pun sumber airnya berasal dari sungai yang satunya lagi," kata Nana.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved