Paradoks Ekonomi Jabar: Tumbuh Tinggi tapi Penurunan Kemiskinan Malah Melambat
Sejumlah indikator kemiskinan justru menunjukkan perlambatan dampak pertumbuhan ekonomi terhadap perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Pengamat Ekonomi Unpas, Acuviarta Kartabi, menyoroti pertumbuhan ekonomi Jabar 2025 (5,32 persen) yang belum efektif menekan kemiskinan dibandingkan 2024.
- Penurunan jumlah warga miskin justru melambat seiring kecilnya penurunan indeks kedalaman kemiskinan.
- Ia mendesak Pemprov mengevaluasi prioritas anggaran antara infrastruktur dan bantalan sosial agar ekonomi lebih inklusif serta tepat sasaran.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang lebih tinggi dalam dua tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti oleh penurunan kemiskinan yang signifikan.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Barat 2025 memang meningkat, dari 4,95 persen tahun 2024 menjadi 5,32 persen secara kumulatif (c-to-c).
Meski demikian, geliat ekonomi tersebut tidak hanya tumbuh lebih tinggi, namun juga diikuti dengan peningkatan inklusifitasnya terhadap indikator-indikator kesejahteraan, salah satunya terhadap penurunan jumlah penduduk miskin.
"Namun tampaknya harapan tersebut belum sejalan, jika melihat efek pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin," ujar Acuviarta Kartabi, Selasa (10/2/2026).
Berkaca pada tahun 2024, ekonomi Jabar tumbuh 4,95 persen. Sedangkan penurunan jumlah penduduk miskin antara Maret 2024 ke September 2024 mampu mencapai 180 ribu orang.
Acuviarta menilai, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun 2025 (5,32 persen), penurunan jumlah penduduk miskin terlihat lebih rendah.
"Penurunan jumlah penduduk miskin antara Maret ke September 2025 hanya sebesar 100 ribu orang, alias lebih kecil penurunannya dibandingkan tahun 2024. Pertumbuhan ekonomi Jabar 2025 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2024," ucapnya.
Sejumlah indikator kemiskinan justru menunjukkan perlambatan dampak pertumbuhan ekonomi terhadap perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin.
Dia mencontohkan indeks kedalaman kemiskinan. Pada 2024, saat pertumbuhan ekonomi relatif lebih rendah, penurunan indeks kedalaman kemiskinan mampu mencapai 0,16 poin.
Kendati demikian, pada 2025, meski pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, penurunannya hanya sebesar 0,03 poin.
“Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan posisi rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, sehingga semakin tinggi penurunannya, kondisinya semakin baik,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada indeks keparahan kemiskinan. Pada periode Maret hingga September 2024, indeks ini turun sebesar 0,05 poin.
Sementara pada periode yang sama tahun 2025, penurunannya hanya 0,02 poin.
Padahal, rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II dan III tahun 2024 tercatat sebesar 4,93 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 5,20 persen.
| Proyek Tol Getaci Terancam Mandek, Pengamat Ekonomi: Potensi Ekonomi Besar, Butuh Dorongan Serius |
|
|---|
| Harga Plastik Naik, Pengamat Soroti Ketergantungan Impor dan Peluang Industri Ramah Lingkungan |
|
|---|
| Pemerintah Pastikan Harga BBM Tak Naik, Pakar Ekonomi Acuviarta Kartabi Sarankan Realokasi Anggaran |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.002, IHSG Ikut Loto, Pengamat: Pasar Butuh Bukti Nyata Pemerintah |
|
|---|
| Donald Trump Sebut Iran Berhasil Dilumpuhkan, Ekonomi Jabar Masih Tetap Terancam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/lonjakan-harga-sayur-mayur-di-Pasar-Rebo-Purwakarta.jpg)