Kamis, 28 Mei 2026

Longsor Besar di Cisarua

Pakar Geologi ITB Bedah Mekanisme Mudflow di Longsor Cisarua, Ingatkan Risiko Bahaya Susulan

Dalam analisis kejadian ini, ditemukan indikasi longsoran di bagian hulu sungai yang termasuk dalam sistem lereng selatan Gunung Burangrang.

Tayang:
Tribun Jabar/Daniel Andreand Damanik
CITRA UDARA - Lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026). 

Ancaman Susulan dan Risiko di Sempadan Sungai

Dr. Imam mengingatkan bahwa potensi bahaya belum sepenuhnya berakhir. Di bagian hulu sungai masih ditemukan indikasi adanya sumbatan lain.

Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan tersebut berisiko kembali jebol dan memicu aliran lumpur susulan yang mengancam wilayah hilir.

Ia menegaskan bahwa meskipun secara regional sebagian wilayah terdampak berada pada zona kerentanan longsor rendah hingga menengah, lokasi permukiman yang berada di sempadan sungai tetap memiliki risiko tinggi.

Area tersebut rawan terlanda aliran lumpur dan bahkan aliran debris yang berasal dari lereng terjal di hulu.

“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya,” katanya.

Selain itu, Dr. Imam menekankan peran penting vegetasi dalam menjaga kestabilan lereng. Vegetasi tidak hanya berfungsi secara mekanis melalui sistem perakaran yang meningkatkan kohesi tanah, tetapi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat proses kejenuhan tanah akibat air hujan.

LOKASI BENCANA - Longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, 24 Januari 2026.
LOKASI BENCANA - Longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, 24 Januari 2026. (Tribun Jabar/Adi Ramadhan Pratama)

Mitigasi Ilmiah dan Tanda Alam yang Perlu Diperhatikan

Dalam upaya mengurangi risiko aliran lumpur dan aliran debris, Dr. Imam menyebutkan tiga pendekatan mitigasi utama yang berbasis ilmu pengetahuan, yaitu:

  • Stabilisasi lereng hulu, terutama pada lereng yang berpotensi menjadi sumber longsoran dan menutup alur sungai.
  • Pemantauan jalur aliran, dengan memanfaatkan teknologi seperti geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau guna mendeteksi pergerakan material sejak dini.
  • Perlindungan di jalur aliran hingga hilir, melalui pembangunan struktur pengendali seperti debris flow barrier, tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, atau cekungan penampung aliran lumpur.

“Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya,” jelasnya.

Sebagai langkah mitigasi non-struktural, peningkatan kewaspadaan masyarakat juga menjadi kunci penting. Salah satu tanda alam yang sering luput dari perhatian adalah berkurangnya atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih turun. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” katanya.

Melalui kejadian ini, Dr. Imam berharap pemahaman publik mengenai bahaya longsoran menjadi lebih luas. Risiko tidak hanya terbatas pada runtuhnya lereng di sekitar permukiman, tetapi juga mencakup ancaman aliran bermuatan sedimen dari hulu yang dapat terjadi tanpa tanda visual yang jelas di lokasi tempat tinggal masyarakat.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved