Kamis, 7 Mei 2026

Bertemu Lempeng Aktif: 6 Kecamatan di Pangandaran Punya Tingkat Risiko Tertinggi Gempa dan Tsunami

Selain gempa, wilayah pesisir selatan Jawa ini juga kerap mengalami bencana lain seperti longsor dan banjir.

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Padna
WIASATA PANGANDARAN - Suasana di Pantai Pangandaran, belum lama ini. Kabupaten Pangandaran dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami.  

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Kabupaten Pangandaran dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. 

Selain itu, wilayah pesisir selatan Jawa ini juga kerap mengalami bencana lain seperti longsor dan banjir.

Kalak BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh letak Pangandaran yang berada di zona subduksi pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. 

Zona ini sangat aktif, sehingga wilayah tersebut rawan diguncang gempa, termasuk potensi gempa megathrust.

"Jelas gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami," ujar Dodo melalui WhatsApp, Senin (8/12/2025) siang.

Setidaknya terdapat 22 desa di enam Kecamatan yang masuk kategori rawan terdampak gempa dan tsunami. 

Enam kecamatan tersebut yaitu Kalipucang, Pangandaran, Sidamulih, Parigi, Cijulang, dan Cimerak. Seluruhnya berada dekat dengan garis pantai sehingga memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Berkaca pada peristiwa gempa dan tsunami tahun 2006 yang menelan korban sekitar 800 jiwa, Pemkab Pangandaran bersama BPBD terus meningkatkan upaya mitigasi. 

"Termasuk alat Early Warning System yang diuji coba setiap bulan. Jalur evakuasi dan rambu-rambunya juga disiapkan," katanya.

Selain gempa dan tsunami, beberapa wilayah di Pangandaran yang berada di dataran tinggi juga rentan mengalami longsor. Sepanjang tahun 2025, tercatat 10 kejadian longsor sejak 2 Maret hingga 11 November.

Kecamatan Kalipucang menjadi wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, yaitu lima kali kejadian. Disusul Kecamatan Langkaplancar dengan empat kejadian, serta Kecamatan Cigugur satu kejadian.

Bencana banjir juga melanda Kecamatan Padaherang dan Kalipucang dalam beberapa bulan terakhir. Desa yang terdampak antara lain Pamotan, Kalipucang, Cibuluh, Tunggilis, Ciganjeng, Maruyungsari, dan Paledah.

Satu faktor penyebab banjir disebut terkait penyempitan tanggul sungai. Sungai yang sebelumnya lebar kini menyempit sehingga memerlukan pengerukan. 

Dodo menegaskan, bahwa Pangandaran hampir setiap tahun terdampak banjir karena posisinya berada di hilir.

"Kalau ada pengaruh kerusakan alam, mungkin terjadi di hulu. Kalau Pangandaran itu di hilir," ucap Dodo.

Kemudian banjir kiriman juga datang dari Tasikmalaya, Ciamis, serta Kabupaten Cilacap.

"Semuanya masuk ke Sungai Citanduy, dan ketika debit air meninggi, wilayah kita terkena dampak," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved