Jumat, 24 April 2026

Cuaca Majalengka Panas Ekstrem hingga Akhir Oktober, Warga Diminta Sering Minum Air Putih

Suhu siang hari terasa menyengat, bahkan sebagian warga menyebut baru kali ini merasakan panas seterik ini.

net
ILUSTRASI CUACA PANAS - Laporan Adim Mubaroq TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA – Warga Majalengka mengeluhkan cuaca panas ekstrem yang terus dirasakan dalam beberapa minggu terakhir. Suhu siang hari terasa menyengat, bahkan sebagian warga menyebut baru kali ini merasakan panas seterik ini. “Saya sudah puluhan tahun tinggal di Majalengka, baru kali ini merasakan cuaca sepanas ini, terutama di Cigasong,” ujar M. Ibin Nugraha, warga Perum BCA, Kecamatan Sukahaji, Rabu (15/10/2025). Hal senada disampaikan Ibrahim Thalib, warga Majalengka Kulon. Menurutnya, hawa panas sudah dirasakan sejak lebih dari satu bulan terakhir. “Ya betul, panas sekali. Siang hari bahkan terasa seperti di dalam oven,” katanya. Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kertajati mencatat suhu maksimum mencapai 37,6 derajat Celsius, dan kondisi panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025. Prakirawan BMKG Kertajati, Dyan Anggrainy, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini dipicu oleh pergerakan posisi Matahari yang kini berada tepat di atas wilayah Jawa. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung terlalu lama, dan memperbanyak konsumsi air putih. “Kondisi panas ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion),” imbau Dyan. Sementara Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dipicu oleh pergeseran semu Matahari ke selatan Indonesia dan kondisi minim awan hujan. “Saat ini Indonesia masih dalam musim pancaroba. Minimnya tutupan awan membuat sinar Matahari langsung menembus tanpa hambatan, sehingga suhu terasa jauh lebih panas,” ujarnya. Menurut Dwikorita, radiasi Matahari meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berakhir pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring masuknya musim hujan. “Cuaca panas ekstrem kemungkinan akan mulai mereda akhir Oktober hingga awal November, bersamaan dengan peningkatan tutupan awan dan masuknya musim hujan,” jelasnya. BMKG juga memantau potensi fenomena La Niña lemah yang akan meningkatkan curah hujan di Indonesia mulai November hingga Januari 2026. “Fenomena La Niña dapat memicu peningkatan curah hujan di wilayah dengan suhu laut hangat, terutama di bagian barat dan tengah Indonesia,” ujar Dwikorita. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memakai pelindung kepala, dan banyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi. Fenomena suhu ekstrem ini juga menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia yang rawan terhadap variasi cuaca ekstrem. 

Laporan Adim Mubaroq

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA – Warga Majalengka mengeluhkan cuaca panas ekstrem yang terus dirasakan dalam beberapa minggu terakhir. 

Suhu siang hari terasa menyengat, bahkan sebagian warga menyebut baru kali ini merasakan panas seterik ini.

“Saya sudah puluhan tahun tinggal di Majalengka, baru kali ini merasakan cuaca sepanas ini, terutama di Cigasong,” ujar M. Ibin Nugraha, warga Perum BCA, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Rabu (15/10/2025).

Hal senada disampaikan Ibrahim Thalib, warga Majalengka Kulon. 

Baca juga: Wargi Jabar Masih Harus Tahan Gerah, Cuaca Panas Diprediksi Berlangsung hingga Awal November

Menurutnya, hawa panas sudah dirasakan sejak lebih dari satu bulan terakhir.

“Ya betul, panas sekali. Siang hari bahkan terasa seperti di dalam oven,” katanya.

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kertajati mencatat suhu maksimum mencapai 37,6 derajat Celsius, dan kondisi panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025.

Prakirawan BMKG Kertajati, Dyan Anggrainy, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini dipicu oleh pergerakan posisi Matahari yang kini berada tepat di atas wilayah Jawa.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung terlalu lama, dan memperbanyak konsumsi air putih.

“Kondisi panas ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion),” imbau Dyan.

Sementara Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dipicu oleh pergeseran semu Matahari ke selatan Indonesia dan kondisi minim awan hujan.

“Saat ini Indonesia masih dalam musim pancaroba. Minimnya tutupan awan membuat sinar Matahari langsung menembus tanpa hambatan, sehingga suhu terasa jauh lebih panas,” ujarnya.

Menurut Dwikorita, radiasi Matahari meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. 
Kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berakhir pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring masuknya musim hujan.

Baca juga: Gerah! Suhu Udara di Majalengka Tembus 37,6 Derajat Celsius, tertinggi di Jatiwangi

“Cuaca panas ekstrem kemungkinan akan mulai mereda akhir Oktober hingga awal November, bersamaan dengan peningkatan tutupan awan dan masuknya musim hujan,” jelasnya.

Sumber: Tribun Cirebon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved