Senin, 27 April 2026

Keracunan MBG di Bandung

Sejak Januari, Labkesda Jabar Terima 163 Sampel Kasus MBG: Positif Nitrit hingga Vibrio Cholerae

Setiap kasus yang dilakukan uji laboratorium memiliki hasil berbeda-beda, secara frekuensi didominasi oleh bakteri salmonella dan Bacillus cereus. 

Tribun Jabar/ Gani Kurniawan
KERACUNAN MBG - Korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (25/9/2025) 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat, telah menerima 163 sampel makanan bergizi gratis (MBG) dari 11 Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota di Jabar. 

Kepala Labkesda Jabar, dr. Ryan Bayusantika Ristandi mengatakan, ratusan sampel itu diterima setiap ada kejadian luar biasa (KLB) MBG dari Januari-September 2025.

11 Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Barat itu di antaranya Dinkes Kabupaten Bandung Barat, Dinkes Kabupaten Bandung, Dinkes Kota Bandung, Dinkes Cianjur, Dinkes Kabupaten Garut, Dinkes Kabupaten Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, Dinkes Kota Cirebon, Dinkes Kota Cimahi, dan Dinkes Kabupaten Sukabumi dengan frekuensi KLB MBG sebanyak 20 kali.

Hasil pemeriksaan KLB MBG untuk Laboratorium Mikrobiologi sebanyak 72 persen dengan hasil negatif dan 23 persen hasil positif, yakni Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, Eschericia colli, dan Bacillus cereus.

"Untuk pemeriksaan lab kimia sebanyak 92 persen dengan hasil negatif dan 8 persen dengan hasil positif (Nitrit)," ujar Ryan.

Dikatakan Ryan, setiap kasus yang dilakukan uji laboratorium memiliki hasil berbeda-beda, secara frekuensi didominasi oleh bakteri salmonella dan Bacillus cereus. 

"Pada pemeriksaan Lab Kimia paling banyak dari parameter nitrit," katanya.

Ia mengatakan kebersihan air sampai peralatan yang digunakan di dapur MBG memiliki pengaruh terhadap terjadinya keracunan makanan. 

"Hal ini diatur jelas dalam regulasi. Air yang digunakan untuk mencuci bahan makanan, peralatan, maupun tangan pekerja dapur harus memenuhi syarat kualitas mikrobiologi dan kimia (bebas E. coli, bebas bahan kimia berbahaya). Jika air tercemar, bisa menjadi sumber masuknya kuman penyebab keracunan seperti E. coli, Salmonella, Vibrio cholerae," katanya.

Setiap peralatan masak dan saji, kata dia, harus dibersihkan dengan air bersih dan sabun, serta harus ada pemisahan peralatan mentah dan matang untuk mencegah kontaminasi silang.

"Merujuk pada peraturan PMK 1096 tahun 2011 pelaksanaan hygiene sanitasi Jasa Boga. Higienitas pekerja merupakan faktor utama dalam pencegahan Foodborne Disease karena manusia sering menjadi carrier bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus, selain itu untuk pekerja dapur juga harus memperhatikan kebersihan tangan, kuku, rambut, dan pakaian kerja. Pekerja yang sedang sakit dilarang untuk menangani makanan," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved